Skip to main content

Tunas Bangsa?






Sabtu, 20 Agustus 2011 saya bersama beberapa teman (Ozka, Fitri, Uchie, Stefani) berkunjung ke Panti Sosial Asuhan Anak Balita TUNAS BANGSA di daerah Cipayung – Jakarta Timur yang merupakan panti Dinas Sosial Pemerintah Daerah Jakarta. Alih-alih untuk survey lokasi kegiatan sosial, kami pun ditemani seorang Ibu yang merupakan pengurus panti berkeliling panti.

Dari berkeliling panti, dan tanya jawab dengan si “Ibu Pengurus” mengantarkan saya pada catatan-catatan berikut ini.

Panti Tunas Bangsa berdiri pada tahun 1985, namun baru beroperasi setahun kemudian (31 Agustus 1986). Di tempat ini diasuh anak-anak hingga usia 5 tahun.

Dalam menunjang kegiatan sehari-harinya panti ini memiliki 73 orang (keseluruhan) pegawai, termasuk 37 perawat. Pengasuh sendiri terdiri dari PNS, dan CPNS. Menurut Ibu yang mendampingi kami tersebut para pegawai dapat masuk panti dengan melamar. Para pegawai ini termasuk 'orang dapur' yang lulusan boga dan ada pula yang terpilih hanya karena bisa masak.

Saat ini di panti, diasuh sejumlah 64 anak. Baik yang tidak diketahui orang tuanya, juga anak-anak yang dititipkan orangtuanya karena alasan ekonomi.

Tempat tinggal/asuh anak-anak terdiri dari:
- Ruang Arjuna, untuk anak usia 0-6 bulan, saat ini dihuni oleh 12 anak;
- Ruang Srikandi, untuk anak usia 1,5-5tahun;
- Ruang Dewi Shinta, untuk anak usia 6 bulan hingga 2 tahun, saat ini dihuni oleh 20 anak.

Di panti Tunas Bangsa ini selain ruang anak, adapula tempat bermain, aula, ruang isolasi (untuk anak-anak sakit), ruang dapur, dan ruang makan anak. Hampir keseluruhan ruangan dilengkapi AC dan televisi.

Menurut Ibu pengurus panti yang menemani kami dari awal hingga akhir berkeliling panti, setiap bulan ada anak panti yang diadopsi, biasanya lebih dari satu anak tiap bulannya. Anak sebelum diadopsi, diiklankan sampai dengan tiga kali kali. Proses adopsi yakni meliputi observasi, sosialisasi, wawancara, penyerahan anak, dan pemantauan perkembangan anak selama enam bulan. Ia juga menuturkan, jika ada anak sakit dan perlu penanganan atau perawatan Rumah Sakit maka anak akan dirujuk ke RS Tria Dipa, RS Haji, atau RS Pasar Rebo. 

Anak-anak yang telah melewati usia asuh di panti Tunas Bangsa dipindahkan ke panti sosial yang berlokasi di klender, dan setelah usia SD, remaja Putri dipindahkan ke Panti Asuhan Tebet, sedangkan remaja Putra ke Panti Sosial Bina Remaja Putra Utama (usia SMP-SMA).

Selain apa yang terpapar di atas, saya masih punya catatan-catan berikut dan sedikit tanggapan.

^ Saat tiba di lokasi anak-anak sedang bermain, kecuali untuk anak-anak di Ruang Arjuna dan Ruang Dewi Shinta. Kebetulan Ibu Kepala Panti sedang keliling. Saat merawat anak-anak batita beberapa pengasuh/perawat bahkan merawat anak-anak sambil menonton televisi.

^ Di luar ruangan (perkarangan) ditemui beberapa tikus berkeliaran, namun katanya hal tersebut sudah biasa. Hal biasa? Padahal tikus-tikus ini dapat menjadi sumber penyakit.

^ Ada seorang 'kurang waras' bernama 'Elin' yang juga berada di panti. Konon ia senang bantu-bantu, selain itu ia juga senang karena kerap mendapat uang tip dari orang-orang yang datang atau donatur. Ia pun sering ikut mengurus anak-anak, seperti misalnya memanggil anak-anak untuk makan. Tapi yang cukup miris ia juga dibiarkan semena-mena terhadap anak-anak, seperti yang kami saksikan ia menyentil seorang anak. Selain itu saya rasa banyak orang akan setuju, jika anak-anak dibiarkan bergaul dengan orang 'sakit mental' sepertinya akan berdampak kurang baik.

^ Banyak anak dalam kondisi kurang bahkan tidak bersih, memiliki bekas luka (korengan), juga berkulit kotor. Memang tidak sempat ditanyakan soal berapa kali sehari anak-anak mandi, siapa yang memandikan, dan alat-alat mandi yang digunakan, kami juga tidak meninjau lokasi kamar mandi.

^ Kami menemukan beberapa anak berkelakuan yang bisa dikatakan ‘tidak wajar’ seperti berkelahi fisik, makan makanan yang sudah jatuh, namun tanggapan dari beberapa pegawai panti termasuk Ibu pengurus atas hal-hal tersebut bahwa hal demikian sudah biasa. Biasa karena dibiasakan, tidak adakah upaya untuk merubahnya? Tidak bisakah membiasakan hal yang lebih baik?

^ Pukul 10:15 pagi itu - bertepatan waktu untuk snack dengan menu kolak, anak-anak dipanggil ke ruang makan, kami menyaksikan gambaran berikut ini:

  • Seorang pengawas/pengurus marah dengan memukul-mukulkan sendok ke meja makan anak cukup keras hanya karena anak-anak makan bersuara. Tampaknya cukup berlebihan karena cara ini sepertinya cukup keras bagi anak-anak seusia itu. 
  • Ada anak-anak yang tidak dapat meja saat makan, dan juga anak-anak yang akhirnya duduk di kursi (sebelumnya beberapa duduk di lantai), anak-anak ini disuap bergantian dari satu piring dan menggunakan sendok makan yang sama. Dengan menggunakan alat makan yang sama dari mulut ke mulut bisa saja menularkan penyakit anak yang tidak diketahui.
  • Anak-anak ke ruang makan dipanggil untuk waktu kudapan setelah bermain di ruang terbuka, dan anak-anak tersebut langsung makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu padahal pastinya banyak kuman yang terbawa saat bermain, ditambah tidak jarang anak-anak memegang makanannya dengan tangan kotornya itu.
  • Ada anak yang dipukul karena menyeka bekas tumpahan kolak menggunakan baju yang dikenakannya. Astaga, ini cara mendidik/mengingatkan anak dengan cara yang cukup kasar.


^ Anak-anak sakit ditempatkan di ruang isolasi, namun justru yang menjaga ruang isolasi pun dalam keadaan kurang fit. Bagaimana si penjaga yang kurang fit ini bisa berkonsentrasi merawat anak-anak bahkan dirinya sendiri pun perlu istirahat.

^ Menurut Ibu pengurus semua anak sakit yang perlu penanganan Rumah Sakit biasa dirujuk ke tiga Rumah Sakit rujukan, dan dibiayai hingga sembuh menggunakan dana panti. Menurutnya juga selama ini yang sudah ditangani seperti operasi bibir sumbing, dan sakit anak-anak yang cukup parah yakni campak, dan TB namun anak-anak yang mengidap sakit dirawat hingga sembuh tuntas. Betulkah demikian?

^ Dari sikap pengasuh/pegawai yang berani “agak keras/kasar terhadap anak” di hadapan kami yang “bisa dikatakan orang asing/luar”, tidak menutup kemungkinan lebih buruk lagi di belakang.

^ Tidak lupa, diawal perkenalan kami dengan Ibu pengurus, di depan Ruang Arjuna Ibu pengurus mengatakan bahwa subsidi dari pemerintah daerah tidak mencukupi, dan terbantu bantuan spontanitas. Khususnya untuk pasien operasi. Ahaa.., apa benar? Padahal dana yang dialokasikan pemerintah daerah untuk “Panti Sosial Asuhan Anak Balita TUNAS BANGSA” adalah Rp.2.800.000.000,- untuk masa satu tahun.

^ Hampir seluruh ruangan sudah menggunakan pendingin ruangan (air conditioner) juga ruang-ruang anak yang dilengkapi televisi. Semoga fasilitas ini memang demi kebaikan para anak-anak bukan kenyamanan orang-orang dewasa di sekitar anak-anak tersebut.

Tidak salah untuk merenungkannya, apakah panti sosial khusus balita ini sudah cukup mensejahterakan para balita asuhannya dengan dana 2.8 milyar Rupiah per tahunnya? Apakah sumber daya manusia di dalamnya sudah cukup layak bakti atau profesional (khususnya para perawat)? Apakah dana-dana yang masuk di luar subsidi pemerintah sudah dikelola dengan baik dan demi kesejahteraan anak-anak? Katakanlah setengah dari dana itu untuk membayar gaji/honor pegawai di luar PNS, apakah dana 1,4 milyar rupiah tidak cukup dibagi dua belas bulan pengelolaan panti dan keperluan anak-anak?

Sepenglihatan kami banyak mobil-mobil parkir di halaman panti, kemungkinan besar orang-orang datang untuk meninjau atau memberikan bantuan. Seharusnya dengan bantuan-bantuan tambahan di luar dana pemerintah daerah, panti ini dapat lebih ringan dalam memanajemen pengguanaan dana untuk keperluan sehari-hari.

Wajar bila pargaraf demi paragraf tulisan ini menjadi condong skeptis karena terbesit kekecewaan dari apa yang kami (khususnya saya) saksikan sendiri di lokasi.

Harus ada yang dibenahi. Informasi pun harus lebih transparan, baik pengelolaan dana dan catatan kesehatan anak. Banyak orang berhati mulia ingin membantu anak-anak di panti tersebut, tetapi akankah orang-orang itu percaya bantuan mereka tepat guna melihat kenyataan yang terpapar di atas?

Sekali lagi, ini harus menjadi catatan kita bersama dan perhatian khusus. Anak-anak yang diasuh seperti nama panti sosial tersebut adahah Tunas Bangsa, dan tunas yang baik hanya dihasilkan dari pertumbuhan yang baik, tumbuh baik bagi seorang anak adalah perawatan dan perhatian yang baik dari yang berhati nurani melakukannya.

Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10. Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…