Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2013

Mengunjungi Blanco di Ubud

Don Antonio Blanco, keturunan Jerman dari kedua orangtuanya, lahir di Manila pada tanggal 15 september 1912. Setelah lulus SMA dari Filipina, Ia melanjutkan sekolahnya ke Amerika setelah itu ia menjelajah Samudera Pasifik, kemudian ia menyinggahi Hawai, Jepang dan Kamboja, lalu berakhir di Bali, tempat ia menemukan jodohnya dan berdiam hingga mengakhiri hembusan nafasnya. Perjalanan hidupnya membuat Blanco menguasai banyak bahasa yakni Spanyol, Perancis, Inggris, tagalog, Bahasa Indonesia dan sedikit Bahasa Bali.

Blanco dikenal sebagai seniman atau pelukis. Mengapa ia sampai melegenda?  Kita bisa menyimak ‘sejarah’ Blanco di sebuah museum, di Ubud yang diberi nama sesuai dengan si seniman « Antonio Blanco ».

‘Don Antonio Blanco Museum' merupakan kompleks yang terdiri dari rumah tinggal keluarga Blanco yang memiliki taman burung pribadi, tempat sembahyang keluarga khas Bali, museum, dan galeri yang juga sebagai berfungsi sebagai workshop (kini dilanjutkan oleh putranya, Mario Blanc…

Dilarang Masuk ke Mulut dan Usus Saya

Setiap orang pasti punya hal yang tidak disukai atau dihindari. Orang-orang terdekat saya pasti sudah (sewajarnya) mengetahui apa-apa yang saya tidak makan/minum atau berusaha hindari. Namun, seringkali, terutama bagi yang jarang menghabiskan waktu dengan saya, tidak tahu bahwa saya tidak mengkonsumsi hal-hal berikut:
Kacang. Hampir semua jenis kacang dan olahan kacang dan yang mengandung kata kacang dari tempe yang Indonesia banget (katanya) sampai kacang mete atau almond sekalipun. Jangan sekali-kali memaksa/menjebak saya minum susu kedelai. Kacang polong, kacang panjang dan kacang ijo jelas-jelas tidak saya 'sentuh'. Saya hanya bisa berdamai dengan 'kecap' dan 'tahu'. Maka. saya adalah penikmat somay, batagor dan sate tanpa bumbu kacang, dan saya tak bersahabat dengan gado-gado, pecal dan ketoprak. Selain tak suka baunya (kacang), saya memang alergi. Walaupun konon di Indonbesia ini yang diberi nama kacang belum tentu kacang, seperti kacang panjang termasuk k…

Berwisata dan 'narsis' di Lawang Sewu

Jika mendengar 'Lawang Sewu' pasti yang terlintas adalah sebuah gedung tua yang menyeramkan, mengingat sejarah yang terkait dengan tempat tersebut.

Namun, jangan salah, terutama di siang hari yang cerah, Lawang Sewu yang merupakan salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi ini, merupakan tempat menarik bagi mereka yang suka foto. Bagi mereka yang bisa dikatakan 'narsis', berfoto di Lawang Sewu merupakan pilihan lokasi yang menawarkan latar belakang yang menarik, bergaya mistis ataupun vintage.

Karena itu Lawang Sewu merupakan tempat wisata sejarah yang diminati baik oleh warga lokal Semarang dan sekitarnya, juga wisatawan dalam dan luar negeri. Hanya dengan membayar retribusi beberapa ribu rupiah saja kita bisa memasuki kawasan Halaman dan gedung Lawang Sewu, termasuk bawah tanahnya.

Alkisah, pada suatu hari Minggu yang cerah, saya bersama teman-teman yang datang dari macam-macam kota habis menghadiri acara resepsi pernikaha…