Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2014

Rilis Hati

Kalau mencintaimu adalah salah, mengapa alam semesta mempertemukan kita.
Bila menjauhimu adalah sulit, ingin ku tersesat di lubang hitam yang ditakuti.
Atau jika ada dunia lain yang menawarkanmu, biar kutinggalkan bumi ini.
Ketika kurasa napasku adalah bersamamu, di manapun denganmu aku kan bertahan.
Namun bila tak dapat kumilikimu, bumi pun tak ramah lagi bagi jiwaku.
Oh engkau bukan untukku, maka ambilah kembali tulang rusuk yang tertanam padaku ini.
Jika ditanyakan rumus kimia tersulit, pastilah untuk memecahkan ramuan menghilangkanmu di pikiranku.
Kepalaku menghantam batu pun, hatiku tetap terbang mencari hatimu.
Sukmaku dan sukmamu bagai magnet yang tarik menarik, namun tak sampai bersetubuh.
Aku sakit, hampa bagai jiwa menggantung.
Ingin kualami perjalanan astral, yang mungkin akan menghilangkan keterikatanku padamu.
Biar aku menari di panggung galaksi, di antara nebula dengan warna warninya.

[24, 27 Desember 2014]

Pendekar Tongkat Emas - Tongkat Emas Perfilman Indonesia di Penghujung 2014

Peringatan: Kalau mau langsung lihat review film dari gue, ke bagian hurup tebal saja. Tapi kalau mau lihat kilas singkat gue menonton sebuah  "film emas Indonesia", monggo disimak segera dari yang berikut ini.

Awalnya, ini sebuah kisah gue nonton satu film Indonesia di bioskop pada salah satu mal. Gue lihat ada Mira Lesmana, Riri Riza dan Reza Rahadian (semoga mata gue gak "siwer" mengenali orang), setidaknya mereka bertiga yang gue dapat kenali, ketiganya insan perfilman Indonesia. Pas mau masuk studio Mira & the Gang foto selfie dulu di depan poster film tersebut dan eng ing eng.. Ternyata, mereka duduk satu baris dengan gue. Degdegan sih, tapi mencoba sok cool, apalagi yang duduk di sebelah gue adalah Mbak Mira. Jelas film tersebut bukan filmnya Mira, tapi apresiasi mereka terhadap film Indonesia yang bukan "karyanya" pun tinggi dengan 'bela-belain' nonton film Indonesia di bioskop, dan beli tiket. Gue juga sangat apresiatif terhadap film d…

Drama Senin Pagi

Berikut, adalah kisah pagi ini yang gue sempat bagikan di jejaring sosial Path tanpa menyertakan beberapa komentar dari teman. Ini adalah apa yang saya ketik dengan jari-jari gue dari benak gue.

Drama Senin pagi, ketika tarif baru "burung biru" mulai berlaku sang pengemudi salah jalan. Tahukah wahai engkau Pak Supir, salah jalan di Jakarta Senin pagi berbuah runyam?
#ngunyahtahuditaksi

Trus, sekarang driver-nya tiba2 matiin musik,  D: "Argonya gak usah dibayar." L: "Gapapa, tinggal puter balik di depan." D: "Gak usah, ini kesalahan saya."

Hadeuh. Bukan soal argo keleus. Padahal gw, gak marah gak ngomel, kok dia jadi gak enakan gitu, sih? Tahukah engkau wahai Pak Supir, angka dalam argo bisa dicari tapi waktu yang berlalu begitu saja tak akan kembali lagi. #eaaa Dan,,,, drama berlanjut lagi. Tiba2, di keheningan macet dia telp orang. "Pit, anak saya meninggal. Tolong bantu, ya. Iya, jam 3 pagi tadi."
Kenapa jadi begini? Lah, sekarang aku kudu piy…

Melintas Satu Jalan

Malam ini, aku kembali "cengeng". Seperti kerap, hal-hal kecil membuatku ingin menangis, yang seperti ini. Aku pulang dengan taksi, melintas Jalan Sudirman. Tiba-tiba, aku baru ngeh kalau di trotoar dekat arah Bendungan Hilir banyak penjual kaki lima (PKL). Sebenarnya, aku gak suka dengan PKL yang berjualan di sembarang tempat. Tapi, kali ini sanubari terusik. Ketika aku mengarah pulang dengan taksi, mereka masih berjualan. 

Aku tadi berkerja di dalam gedung dan ruang ber-AC sedangkan mereka di pinggir jalan dengan menghirup debu kendaraan. Aku makan siang di mal, mereka entahlah, mungkin beli dari penjaja makanan atau bekal dari rumah. Mereka berjualan, dengan laba "seribu-dua ribu", hingga malam hari, pulang ke rumah yang entah di mana dan/atau seberapa jauh, entah milik sendiri atau menyewa. 

Dan, aku jangan sampai lagi mengeluhkan hidupku. Memalukan!