Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2014

Malam Takbir

Ini menjadi tulisan terakhir di Ramadan's Note.

Bersyukur, malam Takbiran bisa bersama dengan dua orang adik dan Mama. Jakarta ditinggalkan paling tidak separuh dari penduduknya. Tapi, beberapa ruas jalan, apalagi Tebet Utara Dalam yang beberapa hari ini rasanya bikin frustasi orang-orang yang nyetir lewat situ, karena dua malam lalu saja, gue dan nyokap, jalan kaki pun tersendat di sana. Intinya, dekat tempat keramaian, tetap berpotensi macet, bahkan lebih dari biasanya.

Gue pun, karena berjanji ajak kedua adik untuk hang out, memenuhi janji malam itu. Kami naik mikrolet, karena jarak dekat, susah taksi dan biar praktis. Tujuannya, Kokas, kalau gue membahasakannya "tinggal ngesot dari Tebet" saking dekatnya.

Kami berangkat jam delapan malam, kurang dari sepuluh menit sudah merasakan AC lobby mal tersebut. Sayang, banyak gerai yang sudah tutup. Karena tahu kalau restoran dan kafe last order malam ini hanya sampai jam delapan, kami sudah mengamunisi perut di rumah, lagipula …

Mama Ikah Telah Tiada

Semalam, 'gak biasanya, gue tertidur sebelum tengah malam dan dengan lampu menyala. Setelah beberapa hari tidur sama nyokap, akhirnya gue tidur sendiri lagi. 

Seperti biasa, gue terbangun menjelang waktu sahur. Gue malas sahur, dan bahkan 'gak menyentuh ponsel yang sedang di-charge

Menjelang subuh, gue sudah terbangun. Belum imsak rasanya, tapi gue tetap malas untuk makan sahur. Sampai, akhirnya gue benar-benar bisa menghilangkan rasa malas dan 'bangkit dari kasur'.

Gue raih ponsel yang dicolok semalaman, dan membuka WhatsApp.

"Mama udah ga ada :("
"Aku ga punya mama lagi"

Uli, seorang teman baru saja kehilangan sang Ibunda.

Sontak, gue semakin melek dan tertegun sesaat. Baru saja, dua hari ditinggal nyokap mudik lagi. Baru saja, dalam dua hari itu juga, gue dan teman dalam grup WA berisi lima empat teman mendapat kabar kalau Uli harus mudik dari Bandung ke Tasikmalaya karena Ibunya kena serangan stroke, komplikasi, lalu koma di hari berikutnya dan kami …

Foto dengan Mama

Gue mengunggah sebuah foto di Path. Foto bareng nyokap yang baru saja selesai mandi, menggenakan kimono batik dan sedang mengudap keripik talas. Berikut caption yang gue tulis untuk foto tersebut.

"Ayo.. ayo.. yang masih punya kesempatan dekat sama ibunya. Disyukuri. diajakin ngobrol, dipijetin dan dipaksa foto bareng kaya gini (si Mama ga mo difoto & nengok kamera karena abis keramas -- namanya aja dipaksa).

Every mother is the best woman in the world for her children."

Foto-foto di Restoran

Hari ini, gue bersama teman-teman di satu komunitas sahur bareng di restoran bubur ternama di kawasan Jakarta Pusat.
Ini bukan kali pertama gue makan di tempat ini, dan kebetulan setiap gue makan di sini saat malam hari atau menjelang pagi. Gue pun sudah cukup familiar dengan beberapa pelayan restoran ini, termasuk seorang bapak tua yang tampak paling gesit melayani meja bundar tempat gue dan teman-teman makan sahur.
Layaknya setiap komunitas atau pertemanan, khususnya orang-orang pengguna media sosial, tampaknya teman-teman gue pun ingin mengabadikan kebersamaan saat kami sahur bareng. Gue akui, gue sendiri pun adalah termasuk orang yang senang foto-foto saat berkumpul, termasuk berfoto di tempat makan. Tapi, paling tidak gue mempertimbangkan sikon.
Kali ini, gue terusik. Seorang teman mulai bergelagat mau foto bareng dan sudah siap dengan kamera yang akan digunakan. Sasarannya, akan meminta tolong pada pelayan tua (yang gue ceritakan di atas – yang sebenarnya masih sibuk melayani meja …

Apes Don't Kill Apes

Dini hari sebelum gue tertidur dan pagi ini, seperti sudah gue duga, di media sosial (khususnya Path), ramai yang posting kejadian naas yang menimpa pesawat Malaysia Airlines MH17. Ada yang berbagi informasi dengan foto atau link terkait, ada pula yang menyampaikan belasungkawa bagi korban. Gue sendiri bisa tahu cukup cepat karena gak sengaja nongkrong di depan tivi saat semalam baru sampai rumah, dan pas banget sedang pasang saluran CNN yang memberitakan hal tersebut. 

Di satu sisi, pagi ini, memang berita-berita di televisi, khususnya berbagai saluran berita asing pun sama-sama ramai memberitakan kejadian tersebut, termasuk tentang "saling tuding" pelaku penembakan yang diberitakan sebagai penyebab jatuh dan hancurnya pesawat MH17 tersebut. MH 17 terbang di airspace yang katanya sudah ditutup mengingat "perang" antara Ukraina-Rusia.

Selain itu, pagi ini pun gue membaca berita tentang Israel yang mengumumkan serangan daratnya ke Gaza. Sebelumnya, media sosial memang…

God Knows

Mengakui kesalahan bukan berarti seluruh kesalahan memang berakar pada kita. Butuh kedewasaan dalam mengerti maskud tersiratnya. Ketika di satu pihak ada kepuasan dengan pengakuan (salah) -pihak lain- dan semakin "menyerang", sebenarnya letak kecermatan berpikir dengan jernihnya sedang berkurang.

Hari ini, gue seharusnya bisa saja membela diri untuk satu hal. Gue sudah mengakui ada kekhilafan dan masih dipojokan. Tapi, gw menahan diri untuk melakukan "serangan balik". Ya, pengendalian diri. Tidak mudah.

Begitu saja terlintas tiba-tiba akan satu kutipan (Alkitab) bahwa "Siapa direndahkan, ia akan ditinggikan".

Jadi, meskipun itu "sakit", gue coba mengerti bahwa akan ada buah manis dari sikap rendah hati kita. Kalaupun seluruh dunia menyalahkan, ada yang matanya tidak pernah "tertutup".

Just be humble! God knows.

Mensyukuri Kesehatan

Hari ini diisi dengan dari rumah sakit ke rumah sakit. Berkunjung ke dua rumah sakit, keduanya tempat dirawat dua saudara dekat.

Yang pertama, di RSPAD Gatot Subroto, gue menjenguk abangnya nyokap ("Tulang") yang kebetulan pas dijenguk baru saja dipindahkan dari kamar ICU.
Yang kedua, abang sepupu yang kebetulan seumuran nyokap, karena merupakan anak dari Saudari tertua nyokap. Si Abang dirawat di ICU, karena serangan jantung. Untunglah, saat dijenguk keadaannya sudah membaik.

Dua orang Saudara di ICU dan gue bisa menjenguknya dalam keadaan sehat. Semoga ini semakin menyadarkan gue pentingnya kesehatan. Kesehatan yang menjadi mahal ketika penyakit datang.

Mengakhiri kedua kunjungan kerabat tersebut dengan doa, gue yang cuma ikut menutup mata dan lipat tangan - sikap doa, mendengar seksama doa yang diucapkan. Meminta kesembuhan. Intinya itu. Ya, kita bagian dari manusia yang kebanyakan, meminta sembuh di kala sakit. Tapi, apakah kita sudah menjadi manusia yang tak henti bersyukur…

Paket Gorengan

Akhir pekan ini, masih dalam rangka kegiatan Ramadan, gue isi dengan kegiatan KKAB. "Sembako Ramadan", begitulah judul kegiatannya. Dengan dana sosial komunitas dan donasi yang terkumpul, kami membagikan sekitar 150 paket sembako dengan sasaran warga di pemukiman Lapak Samili, Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Selesai kegiatan, kami panitia -tim KKAB-, buka puasa bersama di kediaman seorang teman. Selesai buka (puasa) bersama, makanan kotak menu buka puasa kami dan kudapan berbagai gorengan dan semacamnya masih tersisa.

Kotak-kotak makanan yang masih utuh, akhirnya dibawa teman untuk dibagikan ke 'sasaran' yang ditemui di perjalanan. Sementara kudapan satu plastik, gue bawa.

Di perjalanan gue sempat melihat seorang pemulung dengan gerobaknya saat macet, tapi sayang saat gue mau memberi kudapan yang sudah dipindahkan dalam kemasan yang lebih baik, mobil keburu melaju lagi.

Salahnya, memang kurang persiapan, sehingga berbagai gorengan dan lontong bercampur dalam satu kan…

Segelintir Suara Pilpres Hampir Hilang

Astaga... lagi puasa. Panas.. panas. Hampir 'ngegas' di TPS 01 dan 02. Dari jam 12.40 sudah mau tutup. Jam 12.50 petugas TPS bilang mau ditutup, gue pun sewot:
1. Adik gue saja, lagi jalan kaki otw ke TPS 002. tempat kami memili;
2. Waktu tertera di undangan pukul 07.00 s.d 13.00
Di seberang TPS 001 benar tutup sebelum waktunya, gue datangi dan gue tunjukan jam di HP dan tangan gue. Gue beri argumentasi.
Sekembalinya gue ke TPS 002, akhirnya, TPS 001 pun dibuka lagi disaksikan semua mata dari TPS 002.
Semua ada hikmahnya. Gue datang siang ke TPS untuk menyaksikan 'ini'. Sedikitnya, sepenglihatan gue, ada lima suara yang gue perjuangkan di TPS gue (TPS 002). Tidak banyak, tapi mereka hampir saja hilang hak (memilih) karena TPS mau ditutup, dan belum tentu mereka mau kekeuh kaya gue.
TPS 001 dan TPS002 akhirnya tutup tepat waktu. Alhamdulillah.

Bertemu Idola

Semalam, gue dan beberapa teman pengurus KKAB berada di PMI UTD DKI Kramat untuk berdonor (darah) bersama setelah buka (puasa) bersama. Dondar after bukber. Kebetulan, Cakra Khan, si penyanyi yang cukup hit itu juga berada di sana karena kakaknya memerlukan darah.
Dan, dengan awal malu-malu tapi mau ditambah provokasi 'daripada nyesel', akhirnya minta foto bareng dengan Cakra. Gak tanggung-tanggung, sampai teman-teman cowok pun ikut berfoto.
"Malem mingguan Ramdhan penuh berkah di PMI ketemu mas Cakra Khan.. Low profile bgt.. Suaranya yg serak2 luber bikiin jari gemeteran pas disuruh ngetik di iPhone nya ;-)"

Demikian tulisan seperti adanya, dengan bahasa bebas, di bawah foto kolase yang diunggah seorang teman di salah satu media sosial. Kebetulan, si teman berfoto berdua saja berdampingan. Banyak simbol hati dan komentar diberikan dalam postingan tersebut. Di bawah komentar-komentar yang sudah ada lebih dulu, gue pun ikut bersuara:
"Ketemu Cakra aja bahagia banget,…