Tuesday, August 27, 2013

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman.
Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”

Tante
Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe..
Kenapa “aunty”? Alasan lainnya karena panggilan khas batak semacam 'namboru/bou' atau ‘nantulang’ terlalu ‘pasaran’ di keluarga saya, sehingga kumpul keluarga bisa jadi ribet, kasihan juga misalnya keponakan harus menyebut panjang jika memnaggil tante-tantenya supaya tidak tertukar, misalnya “Namboru Lia”, “Namboru Kristin”.

Bibi
Sebenarnya konotasi "bibi" itu baik. “Bibi” adalah spaan bagi saudara perempuan orangtua kita yang diajarkan di bangku Sekolah Dasar. Ini sama seperti sapaan “makcik” di Melayu. Dan di kalangan Batak Karo panggilan ini sangat santun untuk menyapa wanita yang setara orangtua/saudara dari oragtua kita. Ya, tapi sangat jarang orang keturunan Batak Toba (meskipun sudah ‘terkontaminasi’ budaya Sunda)
macam saya ini disapa
bibi”.
Dan juga sapaan “bibi” ini mengingatkan saya pada ART sewaktu saya kecil, “bibi” bukan “biiiiik” hehe…

Sebenarnya, dengan semakin maraknya panggilan
“Ayah-Bunda” kepada orang tua, sewajarnya “Paman-Bibi” juga seharusnya dibuat hits untuk menyapa saudara/I orangtua sang anak


Untuk menguatkan argumen keengganan saya dipanggil “tante”, berikut saya mengambil referensi dari KBBI:

bibi /bi·bi/ n 1 adik (saudara muda) perempuan ayah atau ibu; 2 panggilan kpd perempuan yg agak tua; 3 kl sebutan bagi wanita (setingkat dng nyonya); 4 panggilan kpd perempuan pembantu rumah tangga
  1. Arti sesungguhnya, sepakat; 
  2. Tuh, kan? Saya anti dengan kata “tua”, meskipun diawali dengan kata “agak”; 
  3. Ih berarti pasangannya “tuan”, bukan “tuan muda”, saya masih “nona”; 
  4. Nah, kan?
tante /tan·te/ n cak 1 adik atau kakak perempuan ayah atau ibu; bibi; 2 panggilan kpd wanita yg agak tua;
-- girang wanita setengah baya yg suka bersenang-senang dng pemuda
  1. Sama seperti arti harafiah ‘bibi’, sepakat; 
  2. Lagi, saya belum ”tua” 
  3. -- girang √† Tuh, kan? Iiiiih…

2 comments: