Skip to main content

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman.
Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”

Tante
Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe..
Kenapa “aunty”? Alasan lainnya karena panggilan khas batak semacam 'namboru/bou' atau ‘nantulang’ terlalu ‘pasaran’ di keluarga saya, sehingga kumpul keluarga bisa jadi ribet, kasihan juga misalnya keponakan harus menyebut panjang jika memnaggil tante-tantenya supaya tidak tertukar, misalnya “Namboru Lia”, “Namboru Kristin”.

Bibi
Sebenarnya konotasi "bibi" itu baik. “Bibi” adalah spaan bagi saudara perempuan orangtua kita yang diajarkan di bangku Sekolah Dasar. Ini sama seperti sapaan “makcik” di Melayu. Dan di kalangan Batak Karo panggilan ini sangat santun untuk menyapa wanita yang setara orangtua/saudara dari oragtua kita. Ya, tapi sangat jarang orang keturunan Batak Toba (meskipun sudah ‘terkontaminasi’ budaya Sunda)
macam saya ini disapa
bibi”.
Dan juga sapaan “bibi” ini mengingatkan saya pada ART sewaktu saya kecil, “bibi” bukan “biiiiik” hehe…

Sebenarnya, dengan semakin maraknya panggilan
“Ayah-Bunda” kepada orang tua, sewajarnya “Paman-Bibi” juga seharusnya dibuat hits untuk menyapa saudara/I orangtua sang anak


Untuk menguatkan argumen keengganan saya dipanggil “tante”, berikut saya mengambil referensi dari KBBI:

bibi /bi·bi/ n 1 adik (saudara muda) perempuan ayah atau ibu; 2 panggilan kpd perempuan yg agak tua; 3 kl sebutan bagi wanita (setingkat dng nyonya); 4 panggilan kpd perempuan pembantu rumah tangga
  1. Arti sesungguhnya, sepakat; 
  2. Tuh, kan? Saya anti dengan kata “tua”, meskipun diawali dengan kata “agak”; 
  3. Ih berarti pasangannya “tuan”, bukan “tuan muda”, saya masih “nona”; 
  4. Nah, kan?
tante /tan·te/ n cak 1 adik atau kakak perempuan ayah atau ibu; bibi; 2 panggilan kpd wanita yg agak tua;
-- girang wanita setengah baya yg suka bersenang-senang dng pemuda
  1. Sama seperti arti harafiah ‘bibi’, sepakat; 
  2. Lagi, saya belum ”tua” 
  3. -- girang √† Tuh, kan? Iiiiih…

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…