Skip to main content

Apes Don't Kill Apes

Dini hari sebelum gue tertidur dan pagi ini, seperti sudah gue duga, di media sosial (khususnya Path), ramai yang posting kejadian naas yang menimpa pesawat Malaysia Airlines MH17. Ada yang berbagi informasi dengan foto atau link terkait, ada pula yang menyampaikan belasungkawa bagi korban. Gue sendiri bisa tahu cukup cepat karena gak sengaja nongkrong di depan tivi saat semalam baru sampai rumah, dan pas banget sedang pasang saluran CNN yang memberitakan hal tersebut. 

Di satu sisi, pagi ini, memang berita-berita di televisi, khususnya berbagai saluran berita asing pun sama-sama ramai memberitakan kejadian tersebut, termasuk tentang "saling tuding" pelaku penembakan yang diberitakan sebagai penyebab jatuh dan hancurnya pesawat MH17 tersebut. MH 17 terbang di airspace yang katanya sudah ditutup mengingat "perang" antara Ukraina-Rusia.

Selain itu, pagi ini pun gue membaca berita tentang Israel yang mengumumkan serangan daratnya ke Gaza. Sebelumnya, media sosial memang diramaikan dengan serangan Israel ke Gaza. Konflik Palestina ini penuh darah dan korban, meskipun buat gue pribadi, rasanya gak perlu menyebar foto-foto para korban (apalagi yang tidak jelas sumber dan kebenarannya).

Miris, ya. Nyawa manusia yang hilang menjadi 'komoditas' pemberitaan. Terlepas dari rasa belasungkawa, terkadang komentar dan informasi yang berkembang lepas dari etika menghormati mahkluk hidup lainnya, yakni para korban dan keluarganya.

Perang identik dengan pertumpahan darah. Dan, seringkali rakyat sipil menjadi korban.  

Gue jadi teringat saat menonton film Dawn of the Planet of the Apes. Ada satu kutipan yang gue ingat diucapkan oleh Caesar -sang pimpinan kaum Apes-, "Apes don't kill Apes.". Ya, Apes don't kill Apes. Human?

Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10. Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…