Skip to main content

Satu Ons Bukan Seratus Gram, Salah Siapa?

Gara-gara membaca berita bahwa harga emas anjlok menjadi US$ 20 per ons, saya pun akhirnya jadi “tercerahkan” dan“tergelitik”. Tentang apa? Jabarannya di bawah ini.

Sepertinya tidak sedikit yang sudah tahu, tapi saya yakin masih sangat banyak orang-orang yang menempuh pendidikan di sekolah lokal (Indonesia – negeri maupun swasta) seperti saya dalam pikirannya sudah tertanam “hafal luar kepala” mengenai konversi hitungan, sebagai berikut:

1 ons (ounce)  =  100 gram
1 pon (pound) =  500 gram

Dan, ternyata itu salah! Salah yang sudah turun temurun. Salah siapa? Nah, siapa yang mau dipersalahkan? Pemerintah c.q Departemen Pendidikan? Atau orang-orang tua yang sudah mengenyam ‘pengetahuan yang salah’? Bahkan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun, mendefinisikan sebagai berikut:

ons n satuan ukuran berat (massa) seratus gram
pon 1 n satuan ukuran berat 500 gr


Bisa lihat juga di KBBI Daring.

Astaga! Ini penting untuk dikoreksi. Sepertinya, saya harus mencari tahu/memastikan keponakan atau anak-anak dari kerabat yang dalam masa sekolah dasar atau menengah, untuk memastikan KESALAHAN ini masih diturunkan hingga kini. Dan, saya pastikan masyarakat pun masih menganggapnya demikian, menganggap yang sudah biasa adalah yang benar.

Berikut, adalah hitungan konversi yang sebenarnya:

1 ons (ounce/onza) = 28,35 gram (bukan 100 gram)
1 pon (pound) = 453 gram (bukan 500 gram)

Jadi, 1 pon = 16 ons (bukan 5 ons)



Bahkan, ada situs yang memudahkan bila ingin melakukan konversi ons ke gram  atau konversi pon ke gram.

Saya juga sempat cari-cari tulisan atau artikel terkait dan ada yang menurut saya sepemikiran dan menjabarkan dengan baik mengenai hal ini, silakan membuka tautan berikut ini.

Semoga semakin banyak yang mendapat ‘pencerahan’ tentang hal ini. Saya sendiri di tengah waktu kerja, menulis unek-unek saya ini sambil berpikir kemana saya harus “mengadu”?


Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10. Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…