Monday, March 8, 2010

Puding Panas vs Minyak Urapan

Ini adalah apa yang saya alami 2 hari lalu. Ketika saya yang baru sempat tidur sekitar 3-4 jam saja dan semangat bangun sebelum jam 7 pagi hari di akhir pekan, yang biasanya digunakan orang-orang pekerja sperti saya untuk beristiraha *baca:tidur puas aka bangun siang*.

Kenapa harus bangun pagi? Karena saya mau masak. Seperti yang sudah dijadwalkan lebih dari setengah bulan sebelumnya ini adalah tanggal dimana teman-teman saya mau berkumpul di tempat saya dan tentu salah satu menu gathering-nya adalah makan-makan.

Karena butuh proses sampai ia mengeras menjadi puding, saya telah merencanakan mengolah agar-agar menjadi chocolate pudding terlebih dahulu.
Saat pembantu di rumah masih sibuk mengepel lantai, saya sibuk sendiri dari mulai membuka kaleng susu kental, mengocok telur, dan menakar coklat bubuk dan gula, dan tentunya saja agar-agar yang semuanya "menjadi keluarga" dalam adonan puding yang dikocok-kocok di dalam panci di atas api panas. Sampai akhirnya mendidih dan saya tambahkan sedikit kopi dan rhum essence untuk menambah aroma. Biasa bekerja sendiri, dan dengan percaya diri saya angkat panci dengan satu tangan untuk siap menuangkan adonan ke dalam cetakan puding. Belum sampai setengan cetakan tiba-tiba pegangan panci lepas dan drrreeeeet..gruuuuuuuutsss......., begitu cepatnya kejadian panci yang masih cukup penuh adonan puding yang baru mendidih terjatuh. Saya hanya sempat menghindari panci jatuh tanpa bisa mengelak dari cipratan adonan panas ke bagian bawah badan saya sambil dengan spontan berteriak. Sahabat saya dan adik saya yang masih tertidur langsung terbangun begitupun pembantu saya yang sekonyong-konyong meghentikan aktivitas bersih-bersihnya.

Panas sekali, sekujur bagian dalam paha kanan saya langsung memerah begitupun kaki kanan saya. Hampir menangis saya menahan perih, terkenan adonan yang baru mendidih, dan betapa bersyukurnya saya bisa menghindari panci panas menghampiri bagian tubuh saya. Baju yang saya kenakan setengahnya sudah berubah warna menjadi coklat terkena siraman puding yang masih cair tersebut, dan dengan mengangkat baju saya ke bagian atas saya menyiram dengan air seluruh paha dan kaki bagian kanan yang memerah tersebut lalu mengoles-oleskan es batu di bagian yang terkena panas. Teman saya mengusulkan untuk segera membeli salap/cream di apotek, dan saya sama sekali tidak mau menggunakan cara konvensional menggunakan pasta gigi karena takut berbekas. Jujur saya langsung sempat merasa down bila akibat siraman itu akan berbekas dan saya tidak dapat mengenakan celana untuk beberapa saat. Tiba-tiba saya teringat persediaan minyak urapan yang saya dapatkan kalau sedang beribadah di Gereja Tiberias. Dan dengan sangat yakin saya minta pembantu saya mengambilnya dari kamar dan saya oleskan sendiri di bagian-bagian yang terasa panas dan memerah itu dengan (tentu saja) menyebut nama Yesus *hal yang sangat manusiawi untuk mengingat Tuhan-nya di kala sakit, setuju?*. Entah kenapa saya begitu yakin kalau itu tidak akan berbekas dan akan sembuh.

Setelah itu saya melanjutkan aktivitas dengan mengipas-ngipas bagian yang terasa panas beberapa saat dan berusaha untuk terus bergerak dengan "pura-pura lupa" akan rasa panas dan perih. Bahkan saya sempat mengirim email sebelum mandi. Setelah mandi saya saya mencoba mengenakan celana panjang untuk mengetes rasa panas yang masih tersisa dan kulit yang masih memerah. Apa yang terjadi kemudian saya akan ceritakan di akhir tulisan ini.

Saya mengaku sebagai orang beriman tapi saya bukan orang suci yang hidupnya tanpa cacat cela. Saya seorang Kristen yang hampir tiap hari minggu ke gereja *walaupun saya pernah dengan sengaja tidak beribadah ke gereja dalam hampir lima bulan, karena punya alasan tersendiri yang mungkin suatu hari akan saya ceritakan*. Saya beribadah tidak terpaku di satu gereja dimana saya tercatat sebagai jemaat, tapi saya bisa beradaptasi dan menikmati ibadah saya selama yang disembah adalah Tuhan yang sama. Dan minyak urapan yang saya gunakan dalam kesaksian ini saya dapatkan saat beribadah di geraja Tiberias.

Orang yang percaya kuasa minyak urapan tentu sangat mengagung-agungkan minyak urapan, apalagi yang sudah merasakan mujizatnya. Berbeda dengan orang yang tidak percaya, bahkan saya tahu ada yang membuangnya. Dan saya adalah mungkin orang yang percaya tapi tidak 100% mengagungkan. Tapi, mujizat itu terjadi di hari sabtu, 6 Maret yang lalu.

Tidak ada bekas siraman yang sempat memerah di kulit paha kanan saya khususnya, yang ukurannya cukup besar. Rasa perih itu hilang secara berkala. Saat mencoba mengenakan celana panjang saya tidak merintih. Bahkan saat satu persatu teman-teman saya datang seperti tidak pernah terjadi "musibah" di pagi harinya terhadap saya. Saya teruskan memasak menu-menu lainnya. Dan hari ini saya dengan bangga bercerita pada teman-teman kantor. dan menunjukkan bekas di paha saya. Hanya ada sedikit goresan merah yang mungkin terkena ujung panci atau tergores tangan sendiri saat panas, dan di paha kiri saya ada sedikit (kecil) bercak hitam, ya itu adalah bekas terkena benda panas tentunya. Karena fokus pada rasa sakit (panas) yang besar di paha kanan saya, saya tidak mengoleskan minyak urapan di paha kiri yang sedikit terkena juga dan sekarang meninggalkan bekas *tapi saya meyakinkan diri itu akan hilang*.

Yang saya dapatkan dari http://www.tiberias.or.id/main.php?id=48, Minyak Urapan adalah Minyak Zaitun, Minyak Urapan untuk memuliakan Allah dan manusia. Minyak Urapan untuk menguduskan Bait Allah, untuk Kesembuhan Ilahi dan mengusir setan serta ada pengampunan dosa di balik Minyak Urapan.". Saya hanya berbagi kesaksian pribadi saya, dan adalah pilihan anda untuk percaya ataupun tidak tapi saya yang merasakan mujizat itu dan bangga untuk berbagi cerita ini. God bless..

No comments:

Post a Comment