Thursday, December 9, 2010

Ahmadiyah dan Tasikmalaya, Dua Kata yang Mengusik Saya Pagi Ini

Pagi tadi ketika saya baru saja membuka twitter, dari seorang teman mendapatkan informasi dan link berita yang berjudul “Ketika Negara Mengunci Panti Asuhan” (http://bit.ly/fdM2Dz ). Berikut saya kutip paragraf pertama dari berita tersebut, “Sebuah panti asuhan di Tasikmalaya, Jawa Barat, dikunci dari luar secara paksa oleh aparatur negara. Di dalamnya ada anak-anak yatim piatu tak mampu. Setelah dikunci, panti tersebut juga hendak dibakar oleh kelompok Front Pembela Islam.”

Kota Tasikmalaya punya arti penting bagi saya, di sana ada kenangan belasan tahun saya (dan keluarga) tinggal menetap. Kota yang memang dikenal sebagai kota Santri, banyak pesantren tapi kehidupannya sangat plural. Dari orang Aceh dari ujung Sumatera sampai orang Papua ada di kota ini, di antara sangat banyak Mesjid dan Mushola terdapat Gereja-gereja, Klenteng hingga Vihara. Perekonomian dibangun oleh pribumi Sunda, keturunan India, Arab dan TiongHoa. Sama saja seperti Jakarta, Bandung atau kota-kota lainnya di Indonesia. Banyak perantau yang sudah tinggal lama dan menetap baik dari suku Batak, Padang, Menado dan yang lainnya. Saya sendiri pernah mengenyam pendidikan di sekolah Negeri yang 90% muridnya beragama Islam, dan kami hidup damai.

Ahmadiyah, lagi-lagi menjadi korban diskriminasi. Mengapa saya katakan “diskriminasi”, karena seharusnya sebagai bagian dari orang-orang dan/atau institusi (tak peduli apakah itu namanya aliran keagamaan atau apapun) BERHAK untuk mendapatkan perlindungan dari negara. Sebagai peserta Kalabahu (karya latihan bantuan hukum) di LBH Jakarta pada tahun 2007, untuk tugas observasi saya dapat kesempatan tinggal bersama satu keluarga Ahmadiyah di Cisalada (Ciampea), Bogor *yang beberapa waktu lalu juga sempat diberitakan mengalami penyerangan/pembakaran*. Para penganut Ahmadiyah juga sama-sama warga negara, sama-sama bebas berkeyakinan. Dan saat itu pun saya yang bukan dari golongan (keyakinan) mereka diperlakukan dengan sangat-sangat baik.

Mengutip dari kata-kata Ahmad Dahlan dalam Film Sang Pencerah bahwa "Agama itu indah, tentram & damai", dan saya sangat setuju dengan ini. Tapi kenapa “Agama” (atau keyakinan) sering dijadikan kambing hitam perpecahan, keributan dan kerusuhan.

Tahun 1996, pernah menjadi “mimpi buruk” bagi banyak orang. Kenapa mimpi buruk karena setelah itu memang harus bangun dan bangkit lagi. Saya masih ingat persis tanggalnya 26 Desember 1996, saat saya masih duduk di kelas 2 SMP tepat sehari sesudah Natal. Terjadi kerusuhan terbesar kedua (jika saya tidak salah) setelah kerusuhan Situbondo. Cerita yang berkembang karena seorang Kyai yang dianiaya oleh aparat polisi. Tapi kemudian kenapa yang jadi sasaran adalah kami yang non muslim. Saya berani menulis seperti ini karena kenyataannya begitu. Gereja-gereja dirusak, dihancurkan, dan dibakar. Toko-toko yang sebagian besar milik keturunan Tionghoa (Cina) yang mayoritas nonmuslim dirusak dan dibakar (saya kurang tahu apakah ada penjarahan atau tidak). Dan sampai malam para “perusuh” tersebut berkeliling kota dengan menggemakan takbir, membawa bedug.

Dalam kejadian 26 Desember 1996, kota Tasikmalaya betul-betul mencekam. Adik perempuan saya dijemput oleh ayah saya berjalan kaki dari sekolah. Kami siaga di dekat telepon, dan berharap pemberitaan di televisi tapi sayang saat itu memeang belum secepat dan seaktual pemberitaan saat ini. Saya masih ingat ketika malam Ibu saya sangat shock karena rumah kami dilempari batu dan kaca jendela rumah pecah, dan adik bungsu saya masih balita. Ayah saya sudah menyiapkan tali untuk lari dari belakang jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Kami kumpul di belakang, orangtua saya dan empat anak-anaknya hanya berdoa dan berjaga-jaga, dan saya yang panik saat itu cuma memegang celengan kecil yang isinya tidak seberapa berharap itu bisa ikut terselamatkan. Belum musim handphone, dan keluarga-keluarga di luar kota terus bergantian menelpon menanyakan keadaan kami.

Singkat kata pagi pun tiba, mulai damai walaupun dalam seminggu Tasikmalaya seperti kota mati. Puji Tuhan, kami sekeluarga selamat. Rumah kami pun selamat, para tetangga menjaganya (ya kami hidup rukun memang). Posisi rumah memang di pinggir jalan, mungkin kejadian lempar batu semalam hanya kerjaan oknum yang iseng. Tapi kami menemukan rumah kami ditempeli tulisan kira-kira seperti ini “Rumah orang muslim”. Ya mungkin ini adalah tindakan tetangga yang baik hati, ingin menyelamatkan kami. Tapi cukup kaget, ketika akhirnya bisa menelusuri kota diantara bekas-bekas bakaran, pengrusakan, banyak tulisan di tembok-tembok atau pagar-pagar dan gerbang yang bernada sama. Intinya milik orang muslim bebas sasaran/amukan.

Kita memang harus berfikiran positif, penyerangan FPI di Cicariang yang mengancam akan membakar mungkin hanya ingin membakar bangunannya saja meski kenyataannya di dalamnya terdapat anak-anak panti asuhan yang terkunci. Ketika manusia sedang khilaf, ia bisa lupa dengan segala akal sehat. Yang tidak mungkin bisa jadi mungkin, dalam kerusuhan 26.12.1996 tidak sedikit yang terpanggang di dalam rumah/toko mereka karena tidak sempat menyelamatkan diri. Bagi mereka yang pernah mengalami ada trauma yang bisa menjadi bayangan kelam seumur hidup.

Belum cukupkah segala yang terjadi di dalam negeri ini “mengusik” pemerintah untuk “bertindak”? Segala isu SARA menjadi pemicu “tragedi” seiring UUD 1945 yang masih jadi konstitusi, penganut Pancasila dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kerusuhan 1998 di Jakarta, Perang antar suku di Papua, dan masih banyak daftar panjang lainnya. Kalau antar sebangsa saja mudah terpecah dan terpancing, bagaimana integritas negeri ini bisa dipertahankan. Apakah kerukunan itu hanya muncul ketika kita menonton dan jadi pendukung Timnas Indonesia? Sangat indah bukan ketika tanpa mempermasalahkan perbedaan suku bangsa dan agama/keyakinan kita bersatu di bawah panji Republik Indonesia.

4 comments:

  1. sedih kalo dengar berita ini...
    cm sy gk bisa berbuat apa2 yg membuat sy semakin sedih.....

    ReplyDelete
  2. saya juga mendengar dan mengalami kejadian di Tasikmalaya ini, namun dari sisi yg berbeda, keluarga saya keluarga pesantren, hari itu smua santri dilarang keluar, alhamdulilahnya, pesantren yg saya tinggali menganggap kerusuhan tersebut tidak perlu terjadi, dan kamipun berdoa supaya kerusuhan cepat berlalu.

    sekarang, tugas kita semua utk menutup semua pintu diskriminasi atas dasar keyakinan...

    ReplyDelete
  3. Pengalaman yg sulit untuk dilupakan 'mungkin ngga bisa'.
    tragedi 26.12.96 Tasikmalaya 'baru saya tahu' ketika itu aku masih kecil, 7 tahun kalo ga salah.

    Sebenarnya agama atau keyakinan itu damai, tentram dan nyaman. Wong semua mengajarkan kebajikan, kechaosan tercipta 'mungkin' karena merasa dilecehkan dan dihina.
    Ahmadya, katanya keluar jalur dari islam, mereka punya nabi baru, trus kitabnya sudah di edit2 'katanya'. Ya sebenarnya ngga jadi masalah bagi mereka, namun yg dipermasalahkan adalh mereka mengatasnamakan islam atau bagian dari islam. seandainya mereka membuat agama sendiri 'mungkin' ga jadi masalah!

    Islam itu nabinya adalah Muhammad SAW dan kitab sucinya adalah AL-Qur'an, dan sampai kapanpun kitab kami terjaga kesucian dan keaslianya.

    Enak emang kalau kita hidup dalam kedamaian dan ga membeda-bedakan. Wong kita semua sama, yg membedakan hanya ada di hati dan amal.

    Dan, segala sesuatu yg anarkis adalah salah saya rasa.
    * just opini 'ga ada referensi resmi'

    http://www.indaam.com

    ReplyDelete
  4. Ajaran agama Islam tidak pernah membenarkan tindak kekerasan dalam bentuk apa pun, terlebih untuk menyelesaikan permasalahan seperti Ahmadiyah di Indonesia.
    Kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan Ahmadiyah dalam bentuk apa pun tidak dapat ditoleransi karena dalam ajaran Islam tidak diajarkan untuk melakukan kekerasan.

    tapi saya melihat ini adalah konspirasi besar untuk mengadu domba umat beragama, klo dari bukunya pak busyro muqoddas yang judulnya "Hegemoni Rezim Intelijen: Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad" jadi tahun 80an itu emang dibentuk dengan sengaja islam - islam radikal ini oleh jendral moestopo tp sepertinya bahasnya jgn disini ya hehehe...

    yg jelas tulisan lia untuk mengupas kejadian diahmadiyah ini keren :)

    ReplyDelete