Wednesday, December 15, 2010

Gubug Rawamalang Kids: A Journey to "Festival Budaya Anak 2010"


Ibet
Teman baik saya Betty Suryaningsih, akrab dipanggil “Ibet” saja adalah seorang pecinta anak dan bersama beberapa relawan lokal sebagai founder dari Komunitas Gubug Belajar IPPA. Berikut adalah sekelumit tentang IPPA dan anak- anak yang dibina oleh Mbak Ibet.


Komunitas IPPA (Ikatan Peduli Pendidikan Anak) Rawamalang, adalah komunitas remaja dan anak-anak di (wilayah) Rawamalang, Cilincing, Jakarta Utara yang peduli akan pendidikan anak-anak di daerah mereka sendiri yang mayoritas hidup dalam kemiskinan. Banyaknya anak-anak dan beberapa ada yang putus sekolah yang tidak punya aktifitas selain bermain tidak terarah adalah motivasi awal yang mendorong dibentuknya komunitas/gubug belajar IPPA Rawamalang sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dimana mereka tinggal.

Rawamalang sendiri adalah perkampungan di pinggiran kota Jakarta Utara dengan penduduk cukup padat dan mayoritas masyarakatnya sebagai pemulung, buruh harian, tukang ojek, parkir, nelayan bahkan tidak sedikit pula yang menganggur. Dengan penghasilan rata-rata Rp. 20.000,- perhari tidak memungkinkan mereka untuk memperoleh wawasan di luar wilayah mereka. Bagi mereka dapat memenuhi keperluan makan sehari-hari saja sudah cukup.

Keterbatasan wawasan anak-anak tersebut yang membuat Mbak Ibet ingin memberikan sesuatu yang baru untuk mereka seperti dengan mengajak mereka keluar dari lingkungan mereka melalui kegiatan yang positif. 



Beberapa waktu lalu Mbak Ibet mulai mengajak anak-anak mengenal dunia luar Rawamalang. Tempat yang sudah dikunjungi dengan ongkos swadaya diantaranya beberapa Museum dan Taman Ismail Marzuki (TIM). Anak-anak tersebut sangat antusias meskipun perjalanan awal diisi dengan beberapa “tragedi mabok darat” karena beberapa anak tidak terbiasa jalan jauh. Yang cukup mengesankan, mengerti akan keterbatasan minggu (28/11) lalu mereka (anak-anak) bahkan dengan senang hati berjalan kaki dan menolak disewakan MetroMini, berjalan dari Menteng ke Cikini (TIM) sambil membawa tas masing-masing juga yang remaja berganti-gantian mengangkat galon air mineral untuk air minum mereka.


Menanti giliran latihan
Tetap Semangat
Pamit duluan - gak bisa lihat latihan :(

Sejak beberapa minggu lalu Mbak Ibet mengajak anak-anak untuk ikut latihan operet gratis di TIM. Hanya beberapa kali latihan di TIM, dan mereka pun harus sabar menanti giliran latihan setelah anak-anak lain (dari sanggar diantaranya). Namun, mereka gigih berlatih juga di gubug belajar. Perjuangan yang tidak sia-sia, dengan segala keterbatasan dan perjalanan jauh Rawamalang - TIM mereka lolos untuk tampil dalam Festival Budaya Anak 2010 dari tanggal 3 s.d 5 Desember 2010 (bisa dilihat di http://www.tamanismailmarzuki.com/). Anak-anak tersebut tentu senang sekali bisa tampil nanti, bahkan mereka tidak hanya mempersiapkan untuk operet tapi juga akan menampilkan tarian dan Band Anak Jalanan.

Dan tibalah faktor yang bisa (dan biasa) menghambat untuk mereka dapat tampil, klise tapi nyata keterbatasan mereka adalah “dana”. Biasanya untuk outing Mbak Ibet meminta anak-anak menabung untuk transportasi, tapi tetap berusaha mencari tambahan dana untuk menutup sewa MetroMini sebesar Rp. 450.000 (pulang-pergi), dan juga untuk tambahan makanan anak-anak karena terkadang ada anak yang tidak bawa bekal makanan dikarenakan saat akan pergi orangtua mereka belum masak atau tidak ada uang untuk membeli makanan.

Mbak Ibet sempat bingung untuk mencari dana dalam waktu singkat guna menutup biaya transportasi dan konsumsi anak-anak selama tiga hari dalam kegiatan Festival Budaya Anak 2010 (FBA’10) tersebut. Untuk kostum anak-anak saat tampil nanti Mbak Ibet dan relawan lokal berfikir keras untuk mendapatkannya, belum lagi berusaha membantu mencarikan dana untuk transportasi dan konsumsi anak-anak ini dan orangtua mereka nanti. 

”Please help!”, ini kata Mbak Ibet saat mendekati hari “H”.

Di tengah persiapan yang kurang dari seminggu sejak dinyatakan lolos untuk tampil, Mbak Ibet pun harus tetap mengontrol latihan anak-anak sambil mencari donasi. Hampir tiap hari, hingga tiap malam dari tempat kerja Mbak Ibet mengunjungi anak-anak dan mengecek setiap perkembangan. Tentu saja dibanding Mbak Ibet kontribusi saya sangat-sangat kecil di tengah-tengah kesibukan saya saat itu, kami hanya saling memberi kabar. Saya hanya dapat memberi semangat dan mencoba membantu Mbak Ibet sebisanya. Saya coba berbagi kisah dengan beberapa teman, tapi tidak terlalu maksimal hasilnya. Tapi kita tetap optimis dan bersyukur pada akhirnya anak-anak tetap bisa tampil. Mbak Ibet pun katanya dapat bantuan untuk transportasi, dan ada pula teman yang menitipkan bantuannya lewat saya. Yang terpenting mimpi anak-anak untuk bisa tampil di panggung FBA’10 dapat terwujud.

Ya, akhirnya anak-anak tampil. Panggung utama di Teater Kecil TIM dan anak-anak ini hanya tampil di panggung luar Teater Kecil tanpa kostum yang maksimal. Hanya dengan pakaian mereka masing-masing dan make up seadanya. Lakon mereka tetap maksimal walaupun tanpa kostum sesungguhnya dan latar belakang (setting) yang sesuai alur cerita.

Saat Berlakon dalam Operet
Saya memang melewatkan pembukaan FBA’10, dan hari kedua anak-anak tampil (4/12) saya datang terlambat karena ada keperluan dari luar kota. Sesuai janji saya pada anak-anak dan Mbak Ibet, saya tidak melewatkan penampilan terakhir menjelang penutupan FBA’10 (5/12). Saya datang saat operet baru dimulai. Anak-anak yang sedang tidak berlakon mendatangi saya satu persatu, menyapa dan memberi salam termasuk mencium tangan saya (ini yang suka membuat saya terharu – mbak Ibet berhasil mengajarkan mereka tata karma yang baik).

Satu dua anak berbagi cerita, sampai salah satu dari mereka tiba-tiba bilang, “Kak, pengen banget deh tampil di sana” matanya sambil menunjuk ke arah pintu Teater Kecil. Saya pun menjawab, “Pasti bisa, kan masih ada tahun depan.” Anak itu pun berujar lagi, “Tapi kak, kita kan gak punya biaya buat kostum.” Honestly, his words suddenly made me like...stop breathing for a while, dan menahan air mata. Saya pun menjawab sama seperti kalimat sebelumnya, “Pasti bisa, kan masih ada tahun depan.”. Mimpi seorang anak mampu membuat saya merasa sedih karena belum bisa mewujudkannya, dan hanya (langsung) berjanji dalam hati untuk membantu mewujudkan keinginan tersebut pada kesempatan lain.

Menjelang akhir penampilan anak-anak, Panitia mencari Mbak Ibet karena Nia salah satu anak asuhan Gubug Rawamalang berhasil Jadi juara II, bukan dalam Lomba Peragaan Busana Anak, atau Lomba Baca Berita Anak tapi Lomba Menulis Surat Anak untuk Bapak Presiden. Nia dan beberapa perwakilan anak-anak diundang masuk ke dalam Teater Kecil. Saya pun ikut masuk. Di dalam Teater Kecil yang (dapat dikatakan) megah (sebagaimana layaknya teater yang sebenarnya) dibanding panggung kecil di luarnya, sedang tampil anak-anak yang juga menampilkan Operet yang nyaris sama dengan yang ditampilkan anak-anak Rawamalang. Yang membedakan, ruangan dingin dengan tata cahaya dan panggung yang diset sesuai tema cerita, juga kostum-kostum cantik para pemainnya. Ada kumbang-kumbang seperti yang tampak di salah satu iklan susu formula di televisi, make up yang dibuat bersinar pada wajah para pemain, layar besar di belakang panggung, dan penonton yang nyaman duduk - sebagian besar adalah orang tua para pemain dari kalangan menengah ke atas tentunya. Pantas saja “anak-anak” bermimpi ingin tampil di sini.

Nia
Tentang Nia, wajahnya tidak seceria teman-temannya. Siapa yang sangka dia bisa jadi pemenang Lomba Menulis Surat Anak untuk Bapak Presiden. Mbak Ibet bilang, memang isi surat Nia bagus, sampai saat ini saya pun belum sempat membacanya. Oh iya, padahal keterlibatan saya hingga kenal anak-anak ini, awalnya adalah permintaan (yang saya terima dengan senang hati) Mbak Ibet agar saya berbagi mengisi materi menulis pada anak-anak. Kembali ke kemenangan Nia yang hanya berbalaskan sebuah piala, sertifikat, undangan ke Taman Safari (terbatas untuk 2 orang saja), dan berlembar-lembar vocher minuman buy 1 get 1 free di 7 eleven (harus keluar kocek lagi deh nih buat pakainya). Ya tapi bukan soal hadiah, prestasi ini jadi kebanggaan buat Gubug Belajar dan anak-anak lainnya, bisa jadi motivasi untuk prestasi-prestasi selanjutnya.

Walaupun tidak menang Lomba Lukis Anak, lukisan anak-anak dipamerkan juga lho dan dapat dilihat oleh setiap pengunjung FBA’10. Saya pun terkesan dan mengabadikan lukisan-lukisan mereka.



Akhirnya, anak-anak pun pulang dalam kelelahan dan tetap ceria. Tiga malam berturut-turut mereka pulang larut, dan sebagian besar harus berjuang untuk menghadapi ujian semester kesesokan harinya. Satu-persatu anak-anak berpamitan setelah foto bersama dengan panitia. Naik MetroMini berdesak-desakan di tengah rintik hujan. Selamat jalan adik-adikku, tetap semangat untuk masa depan kalian, ya!

4 comments:

  1. makasih Mba Lia udah buat catatan seperti ini, ini bisa jadi sebuah gambaran bahwa yang di bawah tak selayaknya selalu dibawah, bahwa mereka juga bisa di pandang di atas karena prestasi yang mereka raih....

    mba lia... yang menang lomba menulis surat untuk bapak presiden itu "NIA" ... bukan "SUKMA"... SUKMA itu kakaknya NIA yang di suruh untuk ambil poto dia'....

    ReplyDelete
  2. Dear Li, there is nothing I can say. Just thank for your support and your good naration about us.

    I believed that someday one of them will be success make a change in their place. what we have to do is just to make them realise that the change come from their willingness not from us. We just help make it up right?

    Please, let me spread your article to others.

    ReplyDelete
  3. huooo...
    Dunia sempit... ada Aris di blog nya Lia :D

    Aris, taun depan coba tanya kakak2 Sahabat Anak u/ ajak temen2 kamu ya!... ato kemaren mereka uda ikutan JSA?

    Lia, lo kudu ikutan Jambore Sahabat Anak nih...

    ReplyDelete
  4. Thank you

    @mas aris: makasih koreksinya, iya sudah saya perbaiki hehe..

    @unibet: you're welcome, sist

    @vicky: Jambore? hoho.. dengan senang hati

    ReplyDelete