Skip to main content

Tour de Java



Entah menulis tentang travelling selalu tertunda, padahal begitu banyak kisah jalan-jalan yang bisa saya bagi. Cita-cita saya punya blog khusus tentang jalan-jalan, koleksi foto jalan-jalan pun sudah ribuan. Tinggal niat dan waktunya.


Setidaknya kali ini saya sempatkan lagi berbagi sedikit. Bukan rasa buah terdalam dari kisah jalan-jalan. Ini ibarat kata pengantar saja kalau dalam sebuah buku.

Kali ini ingin berbagi cerita jalan-jalan akhir tahun 2010 lalu. Ditemani seorang teman, Melda. Saya menamakan perjalanan ini “Tour de Java”.

Ceritanya kita mau backpacking, apa yang terjadi kemudian? *kedip*



Bedug di Mesjid agung Tasikmalaya - terbesar di Indonesia

Singkat cerita, saya saat libur akhir tahun sedang berada di rumah Tasikmalaya, dan Melda pun datang untuk pertama kalinya ke kota kelahiran saya naik bis dari Tangerang.

Karena hanya beberapa jam saja di Tasikmalaya, maka saya hanya mengajak Melda jalan-jalan di pusat kota. Berawal dari Masjid Agung, menelusuri jalan protokol Jalan K.H.Z. Mustofa, berakhir di Mal terbesar di Priangan Timur, Asia Plaza.

Setelah jalan kaki sampai mal, kami pulang naik angkot (angkutan kota) ke rumah. Lalu istirahat sebentar dan bersiap-siap untuk perjalanan kami.

Dengan bis malam Tasik-Jogja, kami pun berangkat ke Yogyakarta.

Yogyakarta

Malioboro di Pagi Hari

Sampai di Terminal Giwangan Pukul 4 pagi, Melda sangat exited karena ini pertama kalinya ia menginjakan kakinya di Yogyakarta. Pagi-pagi buta itu Trans Jogja belum beroperasi, dan kami pun naik becak sampai Malioboro. Berikut catatan tempat yang kami kunjungi:

1.           Start from Giwangan *early breakfast, menu Apel
2.           Stasiun Tugu (sekalian beli tiket untuk ke Surabaya)
3.           Pusat Gudeg - Wijilan
4.           Alun-alun Utara
5.           Benteng Vredeburg | http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Benteng_Vredeburg
6.           Pasar Umbulharjo | http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_Yogyakarta
7.           Mirota Batik
8.           Menyusuri Malioboro | http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Malioboro
9.           Taman Sari | http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_Yogyakarta
10.       Makan siang angkringan di Malioboro
11.       Naik Trans Jogja  *mau bertemu senior – Bang Oman, eh ternyata dikasih pinjam mobil – VolksWagen Transporter T5 & pakai supir :D
12.       Beberapa KM lagi sampai Ullen Sentalu (http://www.ullensentalu.com/), konfirmasi lewat telepon ternyata loket tiket sudah tutup
13.       Candi Prambanan *berdasarkan pengumuman dari loket tiket, 2 menit lagi hampir ditutup | http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Prambanan
14.       Hotel Bhineka *numpang mandi pada teman (Rika) dari Jakarta yang kebetulan nginep di sana | http://bhinnekahotel.com/
15.       Menyusuri Malioboro malam hari di bawah gerimis (karena ogah bayar Becak Rp. 10.000, ke alun-alun Utara)
16.       Makan malam akhirnya di Alun-alun Selatan (sekalian bertemu teman – Daniel, Agung) *seharusnya di Alun-alun Utara, salah kaprah :D
17.       Hotel Bhineka (diantar Agung naik mobil)
18.       Stasiun Tugu (ketemu teman lainnya yang ternyata inisiatif menunggu - Mahendra)
19.       Kereta malam kelas bisnis ke Surabaya


Surabaya

Ciputra Golf Club
Para golfer rela terbang ke Surabaya

Hampir tak pernah naik angkutan, bahkan sesampainya di Stasiun Gubeng sudah dijemput teman (Silvi) naik mobil. Berikut adalah catatan perjalanan kita yang hanya beberapa jam saja di Surabaya:

  1. Keliling kota (entah bagian mana Surabaya)
  2. Ciputra Golf Club | http://www.ciputragolf.com/
  3. Ciputra Waterpark | http://ciputrawaterparksurabaya.com/
  4. Silvi’s home
  5. Meninggalkan Surabaya ke Batu

Batu

Pemandangan di Sekitar Villa

Perjalanan sekitar dua jam, melewati Pandaan dan sempet juga melewati Gang Inul Daratista, tempat asal si Diva Dangdut tersebut di Jawa Timur. Semalam di Batu dengan destinasi, sebagai berikut:

  1. Villa
  2. Klub Bunga | http://www.klubbungabutikresort.com/
  3. Batu Night Spectacular (BNS) | http://thebns.indonesiatravel.biz/
  4. Istirahat – villa
  5. Jalan-jalan di dekat villa (jalan kaki)
  6. Beli oleh-oleh *surprised – dibayari
  7. Taman rekreasi Selekta
  8. Villa dan pulang ke Surabaya *ngebut*

Perjalanan pun berakhir di Surabaya lagi setelah kemacetan luar biasa di sekitar Porong. Melda dengan tiket hanya sekitar Rp. 300.000,- dari Bandara Djuanda kembali ke Jakarta, sedangkan saya dengan kereta eksekutif jurusan Bandung ke Tasikmalaya lagi (untuk acara New Year Eve with family), yang ongkosnya naik 30% saat akhir tahun (lebih dari Rp. 300.000,-).

Banyak teman memang menyenangkan, perjalanan kali ini kembali mengurangi banyak biaya karena tak sekalipun mengeluarkan uang untuk biaya penginapan dan sering dapat makan gratis pula.

Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…