Skip to main content

Jalan-jalan Sendiri Bawa Pulang Foto-foto Diri

“Li! lo nih beneran jalan-jalan sendirian? Kok bisa foto-foto sih?”

Kira-kira seperti itu pertanyaan yang biasanya terlontar ketika orang-orang yang baru tahu saya jalan-jalan sendirian (bahasa kerennya, si pelaku disebut solo traveler), tapi bisa foto-foto.

Bukan berarti narsis jika misalnya satu album jalan-jalan saya isinya cuma foto saya sendiri, dan bukan bohong juga jika saya bilang saya jalan-jalan sendirian tapi bisa pulang dengan foto-foto saya bergaya di lokasi jalan-jalan atau ada foto orang lain juga di dalamnya.

Apa sih yang gak bisa kalau ada niat? Berikut tips untuk bisa mengabadikan diri di lokasi yang diinginkan ketika jalan-jalan sendiri:

  • Bersikaplah pede, ‘tandai’ dulu sudut-sudut yang ingin menjadi latar belakang jika difoto sambil mencari “fotografer sukarela”.

  • Biar gak kelihatan bengong atau kameranya nganggur, ambillah foto-foto alam atau benda di sekitar lokasi yang pantas untuk diabadikan. Atau jika memang hobi foto ya silahkan nikmati dulu saat-saat “menjepret” sampai ada waktu pas untuk foto diri sendiri.

  • Pas ada orang bengong, sapalah! Satu dua patah kata lalu minta tolong untuk foto.

  • Jika gak ada yang bengong, ya minta tolong sama orang lewat saja. Tapi, lihat-lihat dulu kira-kira orang lewat itu lagi happy atau sedih. Kalau kira-kira tampangnya lagi cemberut atau emosi level 10, ya jangan dimintai tolong.

  • Bila menemukan orang bergerombol atau kira-kira se-gang yang sedang foto-foto, dekati lalu tawarkan diri untuk membantu mereka mengabadikan kebersamaan. Sebagai imbalannya satu dari mereka gantian mengabadikan diri kita.

  • Minta tolong pada petugas/pekerja di lokasi kita berada. Misalnya, petugas museum, pelayan di restoran, front man di lobby hotel, dan sebagainya.

  • Jika gak sengaja bertemu teman seperjalanan yang satu tujuan, jalan bersama saja. Bisa berpencar-pencar di lokasi, tapi usahakan ada di satu lokasi bersama di tempat-tempat kita ingin difoto.
Foto di Patuno Resort Wakatobi,
jepretan Bapak tukang ojek yang mengantar keliling Pulau Wangi-wangi

  • Saya punya pengalaman seru keliling suatu pulau dengan tukang ojek, dan dengan senang hati Bapak tukang ojek jadi fotografer sukarela. 

  • Jangan judes atau jual mahal jika ada yang kenalan karena justru jadi kesempatan kita punya fotografer gratisan pada saat yang tepat.

  • Bila ada orang/orang-orang yang juga minta tolong untuk minta difoto, bantulah dengan senang hati untuk menjepret kamera mereka, maka ia/mereka juga akan berbalas budi melakukan yang sebaliknya. Atau jika sedang tidak ingin difoto, percayalah suatu hari karmanya akan kita dapat berupa bantuan menjepret diri kita dengan senang hati.

  • Ke luar kota atau ke luar negeri sekalipun tidak menutup kemungkinan ada teman/kenalan yang tinggal di tempat tujuan kita. Ajak bertemu, hitung-hitung kangen-kangenan dan sebagai guide sekaligus fotografer sukarela kita.

  • Guide sekaligus fotografer gratis juga bisa kita dapat dengan mengajak penduduk setempat, atau misalnya anak pemilik rumah tempat kita homestay. Mungkin gak gratis-gratis amat sih, kalau buat sekedar ngongkosin, beli minum atau traktir makan siang gak bakal bikin kita bangkrut kok.

  • Kalau sudah hopeless, atau gak ada yang bisa diminta tolong barulah gunakanlah mode jepret otomatis di kamera kita. Tapi, jangan lupa membawa mini tripod, lalu cari posisi yang pas, jepret, larilah ke arah posisi yang dituju, dan bergayalah! Cheers!!

Berkenalan dengan para bapak-bapak  yang ternyata ramah di atas kapal dari Binongko ke Wangi-wangi. 
Selain bisa minta tolong untuk jepret kamera juga dapat cemilan gratis.

Comments

  1. Boleh
    Mank kamu asli mana kho bisa mpe jalan2 ke wakatobi

    ReplyDelete
  2. Asli Indonesia :). Orangtua dari Sumatra, lahir di Jawa Barat, sekarang tinggal di Jakarta.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10. Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…