Skip to main content

Pest Control Mampir ke Kantor

ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ barusan ada yang gengges eh ganggu lagi. Menamakan dirinya Pest Control.

Kantor gue itu bentuknya Rukan/Ruko, posisinya di pinggir jalan. Jadi, pintu masuk depan langsung masuk ke wilayah kantor. Karena tiga hari ini OB ‘hilang tanpa kabar’ dan di kantor lagi gak ada cowok maka sang sekretaris inisiatif kunci pintu utama. Kata Tuti (sekretaris), Ibu tersebut dari DKI dan mau (semacam) basmi tikus/kecoa. Dalam pikiran kita: fogging.

Tiba-tiba ada tamu, mengetuk pintu kaca kaya pakai semacam logam, sepertinya kunci atau koin. Dari ruangan gue, meski kaca juga tapi gak terlihat jelas. Gak berapa lama si Ibu balik lagi, seorang bapak bawa ‘alat’ masuk ke dalam kantor, saya melihat itu dan Tuti pun tampak bingung. Ternyata Bapak itu mau langsung eksekusi, dan katanya alatnya bukan disemprot. Si Bapak mau masuk ke WC. Stop!! Gue turun tangan.

Gue bilang ini kantor, ada pemiliknya. Gue suruhlah si Tuti ijin dulu. Banyak berkas, cuiii.. Masa sembarangan masukin orang. Wah, jadi semakin 'gak suka'. Tapi gue berusaha sopan supaya dia gak tersinggung. Gue bilang bahwa kami tidak berani mengijinkan tanpa ijin pemilik. 

Pada bon yg dikasih si Ibu tadi tertera harga Rp. 30.000,-, dan dibayar setelah pembasmian dilakukan. Nah si Bapak yang kekeuh tiba-tiba bilang begini; “Ya udah bayar 10.000 aja.” Makin terlihat 'ecek-ecek'. Gue suruh Tuti untuk 'membereskan'. TOLAK!

Dari meja kerja, gue gemes lihat si Bapak ngeyel gak mau pergi. Terpaksa gue ikut campur lagi. Si Bapak beralasan takut dimarahin Ibu tadi. Gue bilang: ‘’Kalau Bapak diomelin, saya yang akan omelin balik Ibu itu!’’. Jangan main-main, meski gue lembut dan tetap sopan, bukan berari gue gak bisa tegas. 

Tuti mengunci pintu, dan ternyata si Ibu datang lagi. Karena gue bertekad mau omelin balik kalau si Ibu itu macam-macam, gue pun keluar. Dan si Ibu kaget, mungkin dia gak menyangka ada gue karena kantor sepi. Kata Tuti, si Ibu ini saat datang melotot sebelum gue ke luar. Gue katakan pada si Ibu bahwa kami tidak kasih orang masuk tanpa ijin bos. *padahal sih gue dikasih otoritas ini*. Si ibu ngeyel, katanya dia gak masuk sama skali. Dia memang di luar pintu, tapi Bapak tadi yang merupakan orangnya dia sudah berani masuk. Gue beri tahu si Ibu tentang hal ini. Dia tetap ngeyel, apalagi setelah gue bilang bahwa ini bukan program wajib. Gue tanya dia dari instansi mana, dan dia jadi grogi. Akhirnya si Ibu mengakui dirinya dari Pest Control, swasta. Padahal tadi dia ngaku-ngaku ke Tuti membawa nama instansi DKI. Gleeek, mau ngadalin? Gue tambahkan lagi, seperti ini: "Apa-apaan, tadi orangnya Ibu bilang bisa bayar Rp.10.000,- padahal yang tercantum Rp.30.000,-". Si Ibu semakin salah tingkah kedoknya terbuka. Akhirnya, si Ibu pergi juga tuh. Gue yakin dia merasa 'apes' karena gue 'introgasi' dan gue kembalikan kuitansi, gagal dapat duit.

Kalau gue niat, bisa saja gue mempermasalahkan. Ada nomor telp RT/RW. Cuma ya sudahlah, kasihan amat gue jadi menutup ladang rejeki dia. Tapi gue masih sebal, dengan bokisnya. Kenapa arus ngaku-ngaku, membawa nama instansi pemerintah. Mengaku saja swasta sejak awal. Kalau dia baik-baik, mengaku dari swasta dan gak melakukan hal menyebalkan tadi, gue bisa catat nomor kontaknya dan rekomendasikan untuk kantor dan kerabat. 

Sayangnya gak semua orang tegas dan seksama. Yang kasihan adalah orang-orang awam yang suka menurut saja karena merasa itu program resmi. Padahal kita bisa cek, untuk cek peminta sumbangan sekalipun karena ada pemerintah setempat berupa RT/RW. That's one of their function. 

Sebenarnya gue bisa tuntaskan itu Rp.30.000,- atau langsung memberi ijin. Tapi salahnya pas kondisi gue lg 'rungsing' ditambah pakai melakukan kebohongan.


*kisah ini merupakan pengembangan dari yang sudah lebih dulu dibagi di twitter @echieLIA 

Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…