Wednesday, November 9, 2011

Pest Control Mampir ke Kantor

ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ barusan ada yang gengges eh ganggu lagi. Menamakan dirinya Pest Control.

Kantor gue itu bentuknya Rukan/Ruko, posisinya di pinggir jalan. Jadi, pintu masuk depan langsung masuk ke wilayah kantor. Karena tiga hari ini OB ‘hilang tanpa kabar’ dan di kantor lagi gak ada cowok maka sang sekretaris inisiatif kunci pintu utama. Kata Tuti (sekretaris), Ibu tersebut dari DKI dan mau (semacam) basmi tikus/kecoa. Dalam pikiran kita: fogging.

Tiba-tiba ada tamu, mengetuk pintu kaca kaya pakai semacam logam, sepertinya kunci atau koin. Dari ruangan gue, meski kaca juga tapi gak terlihat jelas. Gak berapa lama si Ibu balik lagi, seorang bapak bawa ‘alat’ masuk ke dalam kantor, saya melihat itu dan Tuti pun tampak bingung. Ternyata Bapak itu mau langsung eksekusi, dan katanya alatnya bukan disemprot. Si Bapak mau masuk ke WC. Stop!! Gue turun tangan.

Gue bilang ini kantor, ada pemiliknya. Gue suruhlah si Tuti ijin dulu. Banyak berkas, cuiii.. Masa sembarangan masukin orang. Wah, jadi semakin 'gak suka'. Tapi gue berusaha sopan supaya dia gak tersinggung. Gue bilang bahwa kami tidak berani mengijinkan tanpa ijin pemilik. 

Pada bon yg dikasih si Ibu tadi tertera harga Rp. 30.000,-, dan dibayar setelah pembasmian dilakukan. Nah si Bapak yang kekeuh tiba-tiba bilang begini; “Ya udah bayar 10.000 aja.” Makin terlihat 'ecek-ecek'. Gue suruh Tuti untuk 'membereskan'. TOLAK!

Dari meja kerja, gue gemes lihat si Bapak ngeyel gak mau pergi. Terpaksa gue ikut campur lagi. Si Bapak beralasan takut dimarahin Ibu tadi. Gue bilang: ‘’Kalau Bapak diomelin, saya yang akan omelin balik Ibu itu!’’. Jangan main-main, meski gue lembut dan tetap sopan, bukan berari gue gak bisa tegas. 

Tuti mengunci pintu, dan ternyata si Ibu datang lagi. Karena gue bertekad mau omelin balik kalau si Ibu itu macam-macam, gue pun keluar. Dan si Ibu kaget, mungkin dia gak menyangka ada gue karena kantor sepi. Kata Tuti, si Ibu ini saat datang melotot sebelum gue ke luar. Gue katakan pada si Ibu bahwa kami tidak kasih orang masuk tanpa ijin bos. *padahal sih gue dikasih otoritas ini*. Si ibu ngeyel, katanya dia gak masuk sama skali. Dia memang di luar pintu, tapi Bapak tadi yang merupakan orangnya dia sudah berani masuk. Gue beri tahu si Ibu tentang hal ini. Dia tetap ngeyel, apalagi setelah gue bilang bahwa ini bukan program wajib. Gue tanya dia dari instansi mana, dan dia jadi grogi. Akhirnya si Ibu mengakui dirinya dari Pest Control, swasta. Padahal tadi dia ngaku-ngaku ke Tuti membawa nama instansi DKI. Gleeek, mau ngadalin? Gue tambahkan lagi, seperti ini: "Apa-apaan, tadi orangnya Ibu bilang bisa bayar Rp.10.000,- padahal yang tercantum Rp.30.000,-". Si Ibu semakin salah tingkah kedoknya terbuka. Akhirnya, si Ibu pergi juga tuh. Gue yakin dia merasa 'apes' karena gue 'introgasi' dan gue kembalikan kuitansi, gagal dapat duit.

Kalau gue niat, bisa saja gue mempermasalahkan. Ada nomor telp RT/RW. Cuma ya sudahlah, kasihan amat gue jadi menutup ladang rejeki dia. Tapi gue masih sebal, dengan bokisnya. Kenapa arus ngaku-ngaku, membawa nama instansi pemerintah. Mengaku saja swasta sejak awal. Kalau dia baik-baik, mengaku dari swasta dan gak melakukan hal menyebalkan tadi, gue bisa catat nomor kontaknya dan rekomendasikan untuk kantor dan kerabat. 

Sayangnya gak semua orang tegas dan seksama. Yang kasihan adalah orang-orang awam yang suka menurut saja karena merasa itu program resmi. Padahal kita bisa cek, untuk cek peminta sumbangan sekalipun karena ada pemerintah setempat berupa RT/RW. That's one of their function. 

Sebenarnya gue bisa tuntaskan itu Rp.30.000,- atau langsung memberi ijin. Tapi salahnya pas kondisi gue lg 'rungsing' ditambah pakai melakukan kebohongan.


*kisah ini merupakan pengembangan dari yang sudah lebih dulu dibagi di twitter @echieLIA 

No comments:

Post a Comment