Skip to main content

Jalan-Jalan Dan Alas Kaki

Gue adalah seorang yang gemar jalan dalam arti yang sebenarnya. Hanya saja gue kurang suka jalanan di Jakarta sering membuat tidak nyaman, baik kondisi jalannya ataupun udaranya. Karena gemar jalan, sewajarnya ketika 'jalan-jalan' gue akan lebih senang bila punya partner yang kuat berjalan, dalam arti gak gampang capek, gak takut terik, menikmati 'perjalanan, dan pastinya gak suka mengeluh.

Waktu SMA gue sempat ikut 'hiking' sampai ke atas Gunung Papandayan dari sekitar 50-an siswa-siswi waktu itu yang melanjutkan jalan sampai atas hanya 20 orang termasuk dua orang perempuan, salah satunya adalah gue. FYI, gue bukan anggota pecinta alam saat itu. Jadi track saat itu cukup melelahkan juga sebenarnya.

Masih soal jalan kaki, gue pernah karena 'gengsi' kalah harga dengan tukang ojek atau tukang bajaj akhirnya lebih memilih jalan kaki. Bukan karena gue pelit atau gak mampu bayar, tapi kalau hitungannya sama dengan ongkos taksi ya mending gue naik taksi, bukan? Gue sudah pernah beberapa kali jalan dari Manggarai sampai rumah (Tebet), jadi rutenya adalah Pasaraya Manggarai - Jalan Saharjo - Jalan Prof. Dr. Satrio (lapangan ros), nyebrang jembatan penyebrangan SMP 115 - Tebet Utara. 

Di Tasikmalaya, kalau gue ngajak teman/saudara dari luar kota biasa tuh ngajak jalan kaki dari Masjid Agung sampai dengan Asia Plaza, lha kalau orang-orang Tasik sendiri malah lebih memilih muter-muter naik angkot atau naik becak, karena jalan protokol yang sebenarnya lurus-lurus saja itu gak dilalui angkot dan terlarang bagi becak.

Partner yang hobi jalan juga itu bisa buat perjalanan lebih asik dan gak berasa kok. Gue sama Melda di Jogja dari Wijilan jalan kaki ke Malioboro terus sampai ujung dekat stasiun Tugu terus balik lagi ke Umbulharjo terus balik lagi sampai hampir ujung lagi dengan berjalan kaki. Bahkan waktu mau ke Alun-alun Selatan karena ogah naik becak bayar IDR 10,000 (bukan karena kikir ya) kita juga jalan kaki disambut gerimis.

Yang lebih gokil, waktu di Singapore empat hari gue, Melda dan Ester kuat banget jalan-jalan tiap hari. Walaupun Singapura itu tampak kecil tapi jangan remehkan jalan-jalan selama empat hari dengan lebih banyak berjalan kakinya, dari jam breakfast sampai dengan tengah malam. Kita pakai MRT untuk menghemat waktu saja, tapi sisanya kita pernah jalan dari muter-muter kawasan Little India, lanjut Clarke Quay sampai China Town, bahkan setelah kita seharian di USS (dari pagi sampai malam) masih nyambung lagi lanjut ke Mustafa terus cari makan hampir tengah malam, dan dua kali pengalaman lari-lari ke stasiun MRT karena kejar jam terakhir MRT, bawa tentengan pula lho.

Ok mungkin banyak sih yang pengalaman jalan kakinya lebih hebat dari gue, di sekitar kita juga banyak, tukang sayur keliling, tukang bakso, dan tukang-tukang jualan lainnya bahkan berkeliling sambil bawa beban dagangannya.


Nah kunci dari suksesnya jalan seharian adalah alas kaki yang tepat. Buat gue yang juga seorang penggemar high heels, jalan-jalan di mall, atau trotoar yang nyaman seharian pakai hak tinggi juga bisa dengan catatan sepatunya enak dipakai. Tapi ya gak asik juga dong kalau jalan-jalan pas liburan pakai high heels, misalnya gue lihat cewek jalan di Candi Prambanan pakai wedges rasanya 'gimana gitu'. Bade kamana atuh?



Jadi yang paling tepat untuk dikenakan saat jalan-jalan adalah alas kaki datar. Pilihannya adalah:
  1. Slippers atau sandal jepit
  2. Sneakers/sepatu kets
  3. Flat shoes
  4. Sepatu sandal
  5. Sandal gunung
Catatan:
  • Kecuali sepatu sandal dan sandal gunung, berdasarkan pengalaman untuk jenis alas kaki lainnya supaya nyaman sebaiknya bawa sandal candangan, karena ternyata kuncinya bukan hanya karena alas kaki datar tapi juga perlu mengganti alas kaki. Menggunakan alas kaki yang sama dengan jarak tempuh kaki yang cukup lama selama dua hari berturut-turut niscaya si kaki bisa gempor juga.
  • Lihat juga jenis jenis perjalananannya, ya kalau naik gunung, masuk hutan ke luar hutan  jangan pake girly flat shoes atau sendal jepit yang mudah putus atau terselip.
  • Jika suka mengenakan sneakers/sepatu kets sebaiknya mengganti kaos kaki setiap hari. Jangan sampai bau kaki. IMO, lebih enak pakai alas kaki terbuka karena kaki kita masih bisa "bernafas", atau flat shoes yang gak ribet, yang gak perlu kaos kaki jadi ketika makan atau istirahat, bisa meng-angin-angin-kan si kaki yang lelah berjalan.
  • Kalau takut kulit kaki jadi gelap karena matahari atau takut belang, ya sudah jalan-jalan di mall saja! Sorry to say, ribet dah sama orang yang jalan-jalan kebanyakan "takut"nya.
  • Sebenarnya kalau perjalanan untuk shopping yang dari mal ke mal, silakan aja pakai wedges atau high heel kan gaya juga penting cuma gue pribadi malas harus mempersempit volume travel bag atau back pack dengan alas kaki yang ribet.
Demikian sedikit masukan tentang jalan-jalan dan alas kaki. Jika tak setuju tak apa, jika punya pengalaman mari dibagi. Be your self! Kenyamanan inti dari suatu perjalanan adalah menjadi diri sendiri. 

Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10. Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…