Thursday, July 5, 2012

Pilkada Jakarta Menentukan Wajah Ibukota Lima Tahun Ke Depan


Lia dan Jakarta

Nama saya Resy Novelia Sirait  biasa disapa dengan nama singkat Lia atau Echie (siapa tahu ada yang baru pertama buka blog ini ataupun belum mengenal saya secara personal). Keturunan dari ayah-ibu Batak yang menikah di Bandung, kemudian lahirlah saya putri sulungnya yang kemudian belasan tahun tumbuh dan tinggal di Tasikmalaya. Meminjam istilah, teman-teman sering bilang bahwa saya adalah seorang “Batak murtad, Sunda kafir”. Sebelas tahun terakhir kehidupan saya kemudian menetap di Jakarta.

Kalau mengutip pengertian di Wikipedia:
"Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:
- Orang yang tinggal di daerah tersebut
- Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.
Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.;
saya sebagai definisi pertama dan definisi sosiologi sudah sejak 2001 sebagai Penduduk Jakarta, tetapi secara definisi kedua baru sejak 2007 sebagai Penduduk Jakarta dengan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Jakarta Selatan.


Karena itu, sebagai penduduk resmi Jakarta saya juga mendapat hak suara untuk Pemilihan Umum Tahun 2009, baik untuk memilih DPRD DKI Jakarta. Nah, sekarang seingat saya tahun 2012 inilah pertama kalinya saya akan punya hak suara untuk Pemilhan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Jakarta.


Lia dan Pemilu


Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia berdasar pada Undang-Undang No 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum. Ini sekilas informasi saja buat yang belum tahu.
Pemilu/Pemilukada (seringkali disingkat Pilkada), adalah pesta demokrasi yang dari kacamata pribadi saya (kerap kali) menjadi perang eksistensi dan merebut kekuasaan bangsa ini untuk memilih baik “wakilnya di legislatif” atau “pemimpinnya” di tingkat nasional dan daerah. Pada masa saya kecil Kepala Negara dan Kepala Daerah belum dipilih langsung.
Selain sebagai pemilih aktif, saya pun  beberapa kali “nyemplung” langsung di urusan diluar sebagai pemilih, diantaranya pengalaman berikut:


2004: Status saya saat itu sebagai mahasiswa, dan saya berpartisipasi sebagai Pemantau Pemilu Centre for Electoral Reform (Cetro). Cetro sendiri berdiri diprakarsai tokoh-tokoh seperti Emil Salim dan Todung Mulya Lubis.



2009: Saya pernah bergabung dengan Exponent Media Visi yang memenangkan lelang Pengadaan Barang dan Jasa KPU: “Rekapitulasi Penghitungan Suara Secara Nasional Calon Anggota DPRD dan DPD Pemilu Tahun 2009”. Di sana saya berkesempatan berpartisipasi sebagai penanggung jawab Ruang Sidang Utama Rekapitulasi yang diselenggarakan  di Hotel Borobudur, Jakarta. Maka ketika Nama Andi Nurpati menjadi isu hangat politik tahun lalu, bagi saya nama ini sangat hangat di telinga saat di ruang sidang utama sebagai satu-satunya perempuan di singgasana pimpinan KPU yang saat itu saya anggap cukup disegani.



2010: Sebagai seorang advokat, saya berkesempatan menerima kuasa hukum dari Pihak Termohon (KPU Kabupaten) dalam suatu sengketa Pemilukada tingkat II.


2012: Saya sebagai sukarelawan (volunteer) Jakarta Bergerak selain dalam kegiatan-kegiatan sosial organisasi, saya pun berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan menuju balon (bakal calon) DKI 1 dengan jagoan kami, Wanda Hamidah. Menurut saya beliau tokoh perempuan, muda dan memiliki kompetensi untuk melangkah ke singgasana DKI 1.  Saat ramainya bursa calon beliau berupaya menerima setiap undangan talk show atau tukar pendapat dan menjadi salah satu yang paling “mencerahkan”. Kelebihan lainnya, sebagai anggota DPRD DKI Jakarta dia pula satu-satunya balon yang punya pengetahuan dan pemahaman fakta-fakta terkini tentang Jakarta (selain incumbent), dan terjun langsung ke ’’lapangan’’. Sebenarnya sudah ada deklarasi dan pemberian plakat kepada jagoan kami sebagai calon resmi dari Partai, but it’s politic, 'homo homini lupus'. Kalau penjelasan ini agak panjang, wajar saja karena mendeskripsikan suara hati.

Tahun yang sama pula, saya mendapat kesempatan beracara kembali di Mahkamah Konstitusi dalam sengketa  Pemilukada tingkat II, kali ini sebagai kuasa dari pihak Pemohon.


Lia tentang Pemilukada DKI Jakarta 2012


Buat saya Pesta Demokrasi (singkat saja sebagai) Pilkada DKI tahun ini cukup diwarnai berbagai latar belakang Calon Gubernur dan Wakil Gubernur, apalagi dilengkapi dengan Calon Independen, hanya sayang saja belum ada calon perempuan yang menjadi warna lain melengkapi keanekaan para pasangan calon. Namun dalam memilih tak terkecuali pada pilkada ini seringkali kita dihadapkan pada keadaan dilema. Mengapa dilema ? Bukan karena semuanya baik sehingga sulit memilih yang terbaik, namun harus memilih yang terbaik diantara calon-calon yang memiliki catatan hitam setidaknya di memori saya pribadi.


Daripada dibilang mencemarkan nama baik, dan sebagai etika saja siapa tahu ada kesalahan (sebagai anugerah manusia tiada yang sempurna), meskipun setelah dibaca pasti bisa diketahui pasangan yang dimaksud, maka saya samarkan urutan pasangan calon DKI 1 dan DKI 2, secara acak berikut ini :



Pasangan A : Pasangan calon independen ini merupakan warna baru dalam dunia Pilkada Jakarta. Saya sendiri sangat berharap calon ini lolos dan maju, juga mendapat nomor urut. Tapi dukungan saya memang tidak maksimal, saya akui saya tidak "menyumbang" KTP  untuk dukungan. Niat sih ada, tapi realisasinya yang tak nyata.

Saya mendukung pasangan ini maju bukan berarti suara saya pasti ada pada pasangan ini. Suara saya punya alasan untuk di sini, namun hasil akhir ada di 11 Juli 2012 nanti.

Nama cagub pada pasangan ini sudah familiar sebelum bursa calon, yayasan-yayasan dimana ia berkontribusi pun yayasan-yayasan yang bermutu, sepak terjangnya baik. Yang tidak suka beliau adalah masyarakat anti kapitalis, tak apa, toh setiap orang boleh menilai dan berhak berpendapat juga berprinsip. Pernah bertemu langsung beberapa kali, tidak dekat, tidak pernah ngobrol langsung sampai saat ini, tapi saya kagum pada wawasan dan hal-hal yang dipaparkannya. Andai didampingi dengan pasangan yang sejajar dan saling melengkapi, menurut saya pasangan ini bisa menjadi yang terbaik.


Pasangan B : Incumbent yang tidak disukai masyarakat sosial media khususnya, terlihat dari membawa-bawa si calon dalam setiap lampias kekesalan macet dan banjir yang katanya hanya genangan saja. Pasangannya dari kalangan militer berdarah Betawi. Walaupun di media selalu menampik dirinya mencalonkan/diapit jadi pasangan calon bukan karena ia merupakan tokoh Betawi, namun tidak bisa ditampik lagi kalau 'si cagub incumben' memang suka sekali melakukan ‘pendekatan’ dengan ormas (daerah) Betawi.

Satu lagi yang saya tidak suka adalah ‘politik uang’, walaupun saya tidak bisa membuktikan dengan dokumentasi, isu politik uang dari cagub ini saat pemilihannya periode lalu adalah benar adanya. Saya pernah mendapat pernyataan langsung dari beberapa orang yang menerima ataupun mengetahui nilai selembar uang untuk coblos kumis.


Pasangan C : Sebenarnya calon ini sepak terjangnya cukup baik. Tapi seperti diketahui publik, dan saya temui dalam artikel-artikel atau berita bahwa alasan si cagub mencalonkan diri karena ’disuruh pantai‘, meskipun jawaban jujur namun merupakan jawaban yang bagai ‘’niat gak niat’’. Meskipun begitu, saya tidak sependapat dengan pendapat orang bilang dengan jabatan akhirnya sebagai pemimpin daerah yang hanya seluas beberapa kecamatan di Jakarta tidak mungkin memimpin kota besar. Buat saya, itu hanya sebuah tantangan, standarnya orang memang dihadapkan dari suatu yang kecil lalu maju ke suatu yang besar, namanya "naik kelas".

Nah, pasangannya sendiri merupakan salah satu yang termuda di antara para calon DKI 2. Latar belakangnya baik, cuma kurang respek dalam pilihan "atap" (baca:partai) politiknya. Hh, tapi hak dia sih, ya? :)


Pasangan D : Bapak ini jabatan akhirnya sebagai gubernur provinsi seberang, dan pasangannya seorang Jenderal Marinir. Calon DKI 1 ini (konon) satu almamater dengan saya, dan saya baru tahu ketika dapat undangan untuk alumni untuk menghadiri acara diskusi dimana beliau sebagai pembicara. Membuat saya semakin tidak simpati, alumni yang hanya menengok kampus dikala “ada maksud”nya saja. Sebenarnya bukan pasangan yang jelek-jelek amat sih kecuali slogan “Tiga Tahun Bisa”nya yang sangat jelek, baik secara harafiah ataupun segi komersial. Tiga tahun kalau gak bisa siap berhenti. Dodol! Kalau mau unjuk gigi dan dinilai berhasil atau tidak tunggu satu periode saja, tidak usah berjanji tapi buktikan.


Pasangan E : Cagubnya sih jelas-jelas bukan pilihan saya. Wajarlah, sebagai seseorang yang ‘dicekoki’ Bhinneka Tunggal Ika dari SD saya butuh pemimpin yang mengakui pluralisme dan integritas.

Pasangannya, seorang intelektual cocok-cocok saja untuk menjadi wakil gubernur tapi sepertinya lebih cocok jadi deputi menteri, kalau lebih tingginya jadi menteri deh (ini bonus). Orang pintar, orang partai, tapi sepertinya orang ini bukan pilihan saya. Titik.


Pasangan F : Kali ini cagubnya yang dari militer, dan maju secara independen. Pasangannya tokoh pemuda, dan yang termuda di di antara pasangan calon.

Menurut Pak Jenderal (Purn), untuk mengetahui denyut kehidupan masyarakat, seorang Pemimpin harus mempunyai perasaan menyatu, dekat dan memiliki hubungan batin dengan masyarakat. Tapi kalau tidak pernah dikenal, bagaimana bisa ya? Saya sendiri kurang tahu prestasi- prestasi pasangan ini, sampai saya mencari tahu sendiri tentunya.

Paparan di atas hanya penilaian pribadi mengenai pasangan calon, tidak bermaksud mempengaruhi atau mengecilkan siapapun. Kalau soal kampanye yang sudah meramaikan ibukota saya tidak banyak komentar, setiap calon punya hak untuk memaparkan program, berjanji atau membual selama tidak melanggar ketentuan yang berlaku. Hanya saja, sebagai pecinta keindahan dan kebersihan, saya sangat tidak suka dengan sampah-sampah dari para rombongan kampanye juga partisipannya, termasuk juga baliho, poster-poster dan umbul-umbul yang dipasang disembarang tempat.



Penutup dari  Lia


Manusia tidak jauh dari menuntut atau menikmati haknya, tapi seringkali hak untuk memilih disia-siakan oleh penduduk yang punya hak suara namun kemudian memilih jadi bagian dari golput. Ini saatnya untuk bijak dan menilai, meskipun mungkin tak ada pasangan calon yang sreg di hati, sebagai kaum yang dianugerahi akal dan pikiran, cobalah untuk memilih yang terbaik dari yang ada. Lihat track record-nya, pantau dan nilai dari acara talk show, debat calon, ataupun orasi dalam masa kampanye.

Saya pun demikian, dan saya berusaha menyampaikan pengetahuan saya pada orang-orang di sekitar saya. Tidak mengarahkan, namun membantu untuk ‘mengenalkan’. Pilkada Jakarta Menentukan Wajah Ibukota Lima Tahun Ke Depan. Memilih yang terbaik dari pilihan akan mengurangi kesempatan “yang terburuk” untuk  terpilih.


Selamat berpesta demokrasi, Jakarta!

No comments:

Post a Comment