Skip to main content

Wisata Religi Surabaya

Wisata religi merupakan satu pilihan wisata yang bisa menjadi alternatif selain wisata alam, wisata museum, wisata sejarah dan wisata kuliner. 

Wisata religi sendiri tidaklah sama dengan wisata rohani. Wisata religi lebih kepada mengunjungi tempat-tempat yang berhubungan dengan suatu agama/kepercayaan untuk mengenal lebih dekat sejarah agama/kepercayaan tersebut atau sejarah yang melekat pada tempat yang dikunjungi, yang biasanya istimewa karena seni arsitektur yang unik. Berbeda dengan wisata rohani, yang umumnya mengunjungi suatu tempat atau daerah dengan tujuan memperdalam tingkat spiritual/keimanan. *CMIIW

Wisata religi bisa menjadi pilihan yang efisien karena banyak yang bisa ditemui di dalam kota, seperti rumah-rumah ibadah/sembahyang. Tidak hanya rumah ibadah, wisata religi juga bisa berupa berkunjung ke lokasi candi, arca, dan makam orang yang dipercayai punya nilai penting dalam perjalanan suatu agama/kepercayaan. 

Dua tahun lalu, sekitar pertengahan 2010 saya bersama sepuluh teman berwisata flashpacker selama dua hari di Surabaya. Meskipun singkat, banyak tempat yang bisa kami kunjungi. Karena itu, saya pun merekomendasikan Surabaya untuk tujuan wisata religi. Dan, beberapa destinasi yang sudah saya kunjungi bisa jadi pilihannya. 



1. Masjid Ceng Ho 



Dikenal juga sebagai Mesjid Muhammad Ceng Ho Surabaya, yang merupakan masjid bernuansa Tionghoa, terletak di Jalan Gading, Ketabang, Genteng. Bangunannya menyerupai kelenteng, Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid. Nama Ceng Ho diambil dari nama seorang Laksamana asal Cina yang beragama Islam, yang juga diabadikan dalam relief berwarna di salah satu sisi dinding bagian luar masjid. 





2. Arca Jokodolog 

Dikenal sebagai Archa Budha Mahasobya yang terletak di Taman Apsari, Jalan Joko Dolog. Dari informasi yang saya dapatkan dari pencarian di internet, patung tersebut dibuat untuk menghormati Kertanegara Putra Wisnu Wardhana sebagai raja Singosari pada masa itu. Legenda lain menyebutkan bahwa Kertanegara membangun patung untuk menghilangkan kutukan Mpu Bharadah yang dapat menggagalkan usahanya mempersatukan kerajaan–kerajaan yang terpisah–pisah pada saat itu. 

Arca Joko Dolog hanya diatapi namun bangunannya tidak tertutup. Saat berkunjung ke sana, tidak ada yang menjaga sedangkan pagar utamanya dikunci, hingga saya dan teman-teman pun nekat loncat pagar atas arahan dan izin seorang Bapak Tua di sekitar lokasi. 






3. Klenteng Hong Tiek Hian 

Sering disebut juga sebagai Klenteng Dukuh karena terletak di Jalan Dukuh, daerah pecinan Surabaya. Klenteng tertua di Surabaya yang dibangun oleh pasukan Tartar pada zaman Khu Bilai Khan pada awal Kerajaan Mojopahit. 

Tempat ibadah ini praktis tidak mempunyai halaman karena terdiri dari dua bangunan dua tingkat yang dipisahkan oleh Gang Dukuh II, dan kedua bangunan tersebut dijembatani oleh sebuah jembatan yang dijaga oleh dua ekor naga. Pada lantai bawah terdapat Altar Macko dan Kong Co, dan pada lantai atas terdapat Altar untuk Buddha, Dewi Kwan Im dan beberapa dewi-dewi lainnya. Oh ya, di tempat ini ini juga dijual perlengkapan sembahyang bagi umat Khong Hu Chu. Seperti Klenteng pada umumnya, bangunan Hong Tiek Hian didominasi oleh warna merah. 






4. Pura Jagad Karana 

Tempat Ibadah umat Hindu ini terletak di Jalan Gresik, Surabaya Utara. Konon Pura ini banyak dikunjungi wisatawan terutama pada hari-hari besar keagamaan seperti galungan dan Kuningan. Namun, pada saat saya berkunjung ada yang melarang kami masuk, sehingga tidak banyak yang dapat kami 'dapatkan' di tempat ini. Dari sekilas pandang bangunan Pura ini khas Hindu Bali.





5. Gereja Katholik Santa Perawan Maria 

Bangunan gereja ini merupakan salah satu cagar budaya di kota Surabaya yang dibangun pada abad XVIII, terletak di Jalan Kepanjen. Bangunan khas seperti gereja Eropa, lengkap dengan gua Maria dan relief perjalanan Yesus dalam "Jalan Salib" di dinding bagian samping gereja. 





Comments

  1. andalan wisata kota surabaya sih emang kuliner sama cultural heritagenya,, cuman,, saya ga tahan sama panasnya hehe :D

    ReplyDelete
  2. Wah ty infonya.. mf numpng share umpn blik :D http://tugascumi.blogspot.com/2013/02/wali-songo.html Ty..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…