Skip to main content

'Kegilaan'

Ini adalah cerita tentang cerita kemarin sepulang kerja, ketika gue sedang suntuk dengan berbagai hal di sekeliling. Mulanya berawal karena gue masih 'keki' sama si bos akibat sebuah 'kejadian' di minggu lalu.

Baiklah, hal berikutnya adalah kisah 'menggila' yang sebenarnya sudah gue bagikan di twitter semalam dengan tanda pagar: #menggila.

Supaya berurut, gue akan berbagi 'kegilaan' gue sore ke malam hari kemarin, sebagai berikut:

  1. Gue sudah merencanakan kabur sebelum jam pulang kerja. Jadi, gue dapat tugas ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang terletak di Jalan Gajah Mada. Nah, gue sudah berencana ingin 'kabur' begitu tugas gue selesai dan dilaporkan ke bos. Berhubung beberapa teman yang gue cek via BBM tidak ada yang available untuk meraih destinasi bersama pada waktu tersebut akhirnya gue berfikir untuk mencari lokasi XXI terdekat. Tugas gue sudah tuntas pada sekitar jam tiga-an, tapi gue memutuskan untuk duduk sejenak sambil menunggu hujan agak reda, Jadilah gue pun meninggalkan pengadilan pukul empat sore, ya cuma 'korupsi' sejam dari jam kantor resmi, toh gue juga suka beramal lembur tanpa dibayar.
  2. Gue 'berlabuh' di Djakarta Theatre XXI dan langsung menuju loket penjualan tiket. Gue memilih film ber-genre  horor yang ditayangkan pukul 17.05 wib. Ya, gue nonton 'Silent Hill', sendiri. Aha! tadinya gue pilih bangku di baris ketiga yang masih kosong, namun pada akhirnya ada sekumpulan (enam orang) penonton datang memenuhi sudut kanan baris yang gue pilih. Dan, seperti pemandangan yang suka gue temui kalau nonton 'film-film aneh', banyak yang datang sendiri buat nonton. Ya, kaya gue ini Oiya, gue sebelum nonton sempat beli Lemon Tea Jelly (seperti biasanya) dan sambil menunggu pintu teater dibuka, gue duduk (tidak sengaja) di sofa dengan nomor meja 11. Lalu, pas nonton, gue pun duduk di kursi C11. Ya, 11, angka favorit gue. IMO, ini film memang 'sakit' karena dari awal ditayangkan sudah penuh adegan horor. Kalau menurut kalkulasi gue, bagian normal dari film ini mungkin hanya sekitar lima persen dari keseluruhan durasi film. Mau coba?
  3. Judulnya gue lagi 'galau tujuan'. Mau nonton lagi, cuma ada Hobbit, dan gue sudah punya janji nobar sama beberapa teman. Mau makan berat, gak ada yang begitu menarik dengan banyaknya pilihan tempat makan (cafe/restoran) di Sarinah. Sempat menawar bajaj, tapi tidak sesuai ekspektasi harga yang gue tentukan. Akhirnya, gue memutuskan buat jalan ke arah Sabang menuju d'marco, makan martabak dengan kreasi menarik dan membaca koleksi buku-buku yang juga menarik akan menjadi pilihan menarik juga. Tapi, namanya sedang 'galau destinasi', gue malah berbalik arah di perempatan. Gue berjalan terus sampai akhirnya berada di Jalan Sam Ratulangi, dan mulai hilang arah. Akhirnya, gue berjalan kaki (mengenakan high heels) dari Djakarta Theatre (Sarinah) sampai dengan TIM (Cikini). Waktu yang gue habiskan (dengan sempat menyimpang di Apotik Century) sekitar satu setengah jam perjalanan kaki.
  4. Gue memutuskan berhenti jalan kaki di depan TIM. Ada taksi BlueBird, tapi gue lagi gak buru-buru jadilah gue memutuskan menunggu taksi Express, supaya lebih murah juga. Eh, tiba-tiba bajaj biru berhenti persis di depan gue. Gue coba tawar, ah no way! Masa udah jalan satu setengah jam, beda harganya cuma goceng. Gue sempat melihat ada peretelan WWF, jadi teringat kalau memang ada perhelatan 100 tahun WWF. Gue BBMlah seorang teman dengan batre BB yang sudah merah alias lemah. Voila, ternyata teman tersebut lagi jaga booth, dan gue samperinlah. Akhirnya, dengan mendatangi perhelatan tersebut gue bisa numpang mengisi batre BB dan foto bersama 'panda WWF' dalam wujud patung lampu. Tapi, kegilaannya bukanlah foto bareng si Panda melainkan gue nyaris kalap dengan tanaman-tanaman yang disediakan WWF. Untunglah, masih terekendali. Dengan semangat, juga ditambah slogan dalam paper bag yang disediakan "banyak pohon banyak rejeki", jadilah gue pulang ke rumah membawa pohon alpukat dan pohon sirsak.
  5. Sampai rumah, gue pun mandi dan tiba-tiba saja terinspirasi memasak bihun goreng. Saat mandi, ini sebuah 'kegilaan' yang tidak disengaja, gue menuangkan sabun mandi di tangan yang gue pikir itu adalah sampo dan gue pakai buat keramas. Gue pikir, sudahlah nanggung, jadi gue lanjutkan selayaknya keramas seperti biasa dan seakan-akan yang gue pakai memanglah sampo.
  6. Nah, yang terakhir ini tidak disengaja. Dengan kejadian BB lompat indah ke bak mandi hari Minggu lalu, seharusnya gue kapok membawa BB ke kamar mandi. Tapi, karena sudah kebiasaan jadi BB terbawa begitu saja, dan astaga! Gak nyemplung ke bak mandi lagi sih, tapi BB terlempar keras ke lantai kamar mandi. Tapi, selama BBnya masih utuh dan bisa dipakai artinya selamat. Jadi, saya teruskan berciak di twitter menggunakan BB tersebut.


Begitu kira-kira 'kegilaan' yang menjadi kisah gue hari kemarin. Mungkin buat beberapa orang ada hal yang standarlah karena biasa terjadi. Buat gue, it's not happened everyday.

Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10. Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…