Skip to main content

Jembatan dan Foto

Foto

Sekarang ini yang namanya jalan-jalan atau traveling tidak terlepas dari yang namanya foto-foto, baik menjadi objek foto atau mencari objek menarik untuk difoto. Apalagi dengan bermacam-macam media sosial (socmed), manusia sekarang ini cenderung lebih 'gila', baik 'diabadikan' atau 'mengabadikan' dan mengunggahnya sesegera mungkin. 

Pengguna android khususnya kini tanpa perlu membuka PC sudah bisa menghasilkan foto dengan varian hasil edit secara kilat dan membaginya kepada publik dengan menggunakan si 'sesuatu banget' bernama intstagram. Nah, meskipun belum memiliki android (baca: pengumuman - barang siapa mau kasih hadiah Iphone 5 atau Samsung SIV saya terima dengan sukacita), namun saya yang rajin berkreasi (di personal Computer saya) berhasil mengubah foto-foto saya seperti foto-foto yang dipamerkan via instagram.


Jembatan

Sebuah tempat yang bisa mejadi istimewa adalah jembatan, baik sebagai icon kota ataupun tujuan wisata. Ada sederetan jembatan yang bagaikan hukum tak tertulis bahwa (khususnya orang dari luar daerah tersebut) wajib untuk mengabadikan diri di tempat tersebut atau menjepret kamera mengabadikan jembatan tersebut. Kesimpulannya, berfoto di jembatan bisa jadi pilihan dengan latar belakang menarik, dan saya rekomendasikan jembatan sebagai lokasi bagi pasangan-pasangan yang mencari tempat untuk foto pre wedding. Sebut saja di  Indonesia ada jembatan Ampera dan Jembatan Suramadu, di luar negeri Golden Gate Bridge tentunya jadi juara.

Salah satu tempat yang menarik buat foto-foto, khususnya jika melancong ke negara lain yang sudah lebih rapi dari negeri kita (baca: tidak ada penjual kaki lima atau pengemis di sekitarnya) adalah jembatan penyebrangan. Saya seringkali tidak melewatkan diri untuk berfoto di jembatan penyebrangan yang cukup sepi, unik ataupun pemandangannya bisa memberikan identitas tempat kita berada.


Foto di Jembatan

Di Indonesia sendiri banyak sekali jembatan selain yang telah saya sebutkan sebelumnya. Dari mulai jembatan gantung, jembatan kayu hingga jembatan beton. Saya sendiri punya banyak foto di jembatan yang sudah saya pernah datangi, namun ada beberapa yang favorit sehingga saya bisa berkali-kali foto di sana (khususnya di destinasi yang lebih dari sekali saya kunjungi). 

Berikut silakan menikmati foto-foto 'centil' saya di jembatan sambil mengenal lokasi yang saya maksudkan.




Jembatan Ubud (Bali)|Letaknya dekat The Bridge Restaurant, Ubud. Lantainya dari kayu dengan pagar besi/baja. Pemandangan sisi dalamnya indah khas alam Ubud, sisi lainnya jalan raya. Saya suka sekali berfoto disini, dari gaya bersandar, lompat, berjalan, dan duduk bersila sudah pernah.




Jembatan Hijau Asep Stroberi (Jawa Barat)|Berada di dalam kawasan Rumah Makan Asep Stroberi yang cukup luas, tepatnya di Nagrek, lintasan kabupaten Garut ke Bandung. Rumah makan ini cukup terkenal, di musim liburan sangat ramai dikunjungi. Uniknya, terutama siang hari kita bisa menikmati pemandangan yang ada di dalamnya, dari sawah terasering, sungai kecil, permainan flying fox, dan lain-lain. Biasanya yang tak pernah dilewatkan para "banci foto" adalah berfoto di jembatan. Bisa dibilang semacam jembatan gantung, dengan bahan dasar mayoritas bambu.



Jembatan (Penyebrangan) Yos Sudarso (Jawa Timur) | Kenapa jembatan ini menjadi menarik buat saya? Karena saya yang suka jalan kaki nyaman berjalan di atasnya. Struktur jembatan terbuat dari tembok/beton, dengan pagar besi berwarna hijau dan atap sehingga kita bisa menghindari panas dan gerimis (baca: bukan hujan badai), dan dilengkapi dengan kamera CCTV untuk menghindari tindak kriminal. Jembatan ini berada di Jalan Yos Sudarso, tidak jauh dari Balaikota Surabaya.




Le Bridge (Jakarta) | Dikenal sebagai le Bridge Ancol, berupa jembatan kayu di pantai sekitar Jalan Pasir Putih Raya Ancol yang diujungnya terdapat Le Bridge Cafe. Saya sendiri belum pernah ke lokasi ini pada waktu terang, mungkin harus merencanankan kabur dari kantor untuk berfoto di pagi/siang/sore hari (karena kalau hari libur ramai pengunjung) *ups*. Kalau datang malam hari terutama di akhir pekan ke tempat ini, jangan kaget jika bahkan tengah malam ada orang-orang yang berenang di pantai yang tidaklah menarik (bagi saya pribadi) untuk berenang di sana.




Jembatan Kota Intan (Jakarta) | Tak perlu cari tahu kota intan dimana, karena Kota Intan yang dimaksud adalah nama sebuah jembatan di kawasan Kota Tua Jakarta. Menurut sejarah, Jembatan ini dibangun pada tahun 1928 dengan nama "Jembatan Englese Burg" (Jembatan Inggris), pernah rusak pada masa penyerangan dari Banten, dan dibangun kembali tahun 1630, lalu berganti nama menjadi "Jembatan De Hoender Pasarbrug" (Jembatan Pasar Ayam), dan tahun 1655 rusak lagi karena banjir dan korosi air asin -nah, Jakarta dari dulu memang sudah langganan banjir-. Jembatan ini berganti nama lagi menjadi "Jembatan Het Middelpunt Burg". Tahun 1938 jembatan ini dirombak menjadi jembatan gantung, dimana jembatan bisa diangkat bila ada kapal-kapal yang hilir mudik *keren, kan?*, kemudian namanya diganti lagi menjadi "Jembatan Ophalsbrug Juliana" (Jembatan Ratu Juliana), dan setelah Proklamasi barulah menjadi "Jembatan Kota Intan". Seru, kan? Sebuah intro buat foto jembatan saja bisa mengantarkan kita mengenal sejarah. Sayangnya, saya belum punya koleksi foto yang cukup yahud dikarenakan berebut ruang foto dengan orang-orang yang juga demen difoto. Oiya, tidak disarankan untuk mengabadikan foto air kali di bawah jembatan ini, sayang sekali airnya hitam dan hmmm,,, sungguh tidak menarik.




Jembatan Cirahong (Jawa Barat) | Berada di Manonjaya, Tasikmalaya, konon jembatan ini dibangun saat masa penjajahan dan memakan banyak korban. Jembatan ini hanya bisa dilalui satu jalur sehingga kerap kali harus dijaga di ujung-ujung jembatan agar tidak ada bentrokan arah. Di atas jembatan sepanjang 202 meter adalah rel kereta api, fantastik! Jembatan yang lebaranya hanya sekitar dua meter itu berada di atas pemandangan sungai dan sawah yang curam namun indah. Sayangnya, meski sudah kerapkali melalui jembatan ini, saya belum pernah mengabadikan diri di lajur jembatan ini karena ramai kendaraan yang mengantri lewat. Sementara, hanya ada foto yang saya ambil dari dalam mobil.


Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…