Skip to main content

Valentine's Day: Donor Darah Tanda Cinta

Préambule

Diawali dengan “H-11” saya menaruh status hitung mundur di status BBM saya. Ya, status mundur tersebut berakhir di tanggal 14 februari 2013. Betul sekali. Jatuh pada hari Valentin. Nah, entah kenapa teman-teman yang perhatian dan sebagian yang kepo di awal-awal banyak yang tidak menyadari dan berprasangka bahwa saya akan pergi ke suatu destinasi alias jalan-jalan. Ya, mungkin karena salah satu hobi saya adalah melancong.

Baiklah, kembali ke soal “H-“ menuju Valentine’s Day. Sebenarnya tidak ada yang terlalu spesial, saya menunggu hari ini untuk (ceritanya mau ikut) merayakan Valentin dengan ber-donor darah. Beberapa tahun terakhir saya memperingati hari ulang tahun dengan berdonor darah dan karena hitungannya sesuai dengan waktu berdonor darah kembali, maka saya ingin menjadikannya rutin juga untuk berdonor di “hari kasih sayang” ini. Yang agak spesial buat saya, karena ini adalah donor yang ke-10 kali bagi saya. *yeaay*.

#DondarTandaCinta

Maka sebagai tanda bahagia berbagi cinta kepada sesama melalui donor darah saya (mau sok-sok-an) membuat gerakan Donor Darah Tanda Cinta -- #DondarTandaCinta (sengaja dibuat dengan tanda pagar ala twitter) .s

Gerilya pengumpulan massa saya awali dengan mengajak teman-teman dekat di tanggal 12 Februari 2012 sore (kecuali teman kantor yang sudah saya ‘hasut’ dari minggu lalu).

Nah, terlepas dari kamu secara pribadi merayakan/memperingati Valentine’s Day atau tidak, punya pacar atau tidak, namun punya kepedulian atas kelangsungan hidup sesama melalui darah yang diberikan sukarela, punya cinta yang tak perlu dibuktikan dengan kata-kata, berbuatlah nyata dengan DONOR DARAH di “hari kasih sayang” 14 Februari 2013. Ya, kalau mau di hari lain juga tidak masalah – yang penting niat tulusnya. 

Yang mau bergabung dengan saya dan teman-teman (sambil berkenalan juga boleh), silakan datang ke PMI  UTD DKI di Jalan Kramat Raya No.47 Jakarta Pusat, selepas jam kerja, ± pukul 17.00. Untuk wilayah Jakarta, donor darah juga bisa dilakukan di beberapa tempat lainnya seperti UTD RSUP Fatmawati dan UTD Senayan City.



Donor Darah Sebagai Gaya Hidup

Sedikit tentang "donor darah sebagai gaya hidup" merupakan kampanye dari Palang Merah Indonesia (PMI). Berikut saya kutip dari Majalah Kesehatan tentang 7 Alasan Mengapa Perlu Donor Darah, sebagai berikut:

1. Kebutuhan yang besar
Setiap delapan detik, ada satu orang yang membutuhkan transfusi darah di Indonesia. Setiap tahun, Palang Merah Indonesia membutuhkan sedikitnya 4 juta kantong darah.

2. Cara mudah menjadi pahlawan
Ya, setiap pendonor darah adalah pahlawan yang menyelamatkan jiwa orang lain yang bahkan mungkin tidak dikenalnya sama sekali. Selain gratis tanpa biaya apa pun, syaratnya pun mudah.

3. Tidak menyakitkan
Salah satu alasan orang enggan untuk menjadi pendonor adalah bahwa prosedurnya menyakitkan. Hanya sakit sesaat ketika jari  ditusuk dengan jarum kecil untuk pengambilan sampel darah, dan berikutnya ketika lengan ditusuk untuk pengambilan darah bahkan lebih tidak menyakitkan lagi. Kedua rasa sakit yang sangat ringan itu tidak pantas untuk menjadi alasan tidak menyumbang darah dan melewatkan kesempatan untuk menyelamatkan jiwa orang lain.

4. Pemeriksaan kesehatan gratis
Sebelum mendonorkan darah, petugas akan memeriksa suhu tubuh, denyut nadi, tekanan darah dan kadar hemoglobin Anda. Ini adalah kesempatan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara cuma-cuma!

5. Makanan gratis
Meskipun menyumbangkan darah secara ikhlas tanpa pamrih, tidak ada ruginya bila ikut menikmati makanan gratis seperti susu, roti, mie instan atau bubur yang disediakan oleh panitia. Itu adalah layanan standar bagi para pendonor, sebagai ucapan terima kasih dan untuk segera memulihkan kekuatan tubuh mereka.

6. Menjadi lebih langsing

Setiap kali mendonorkan darah, membakar 650 kalori (jumlah energi yang diperlukan tubuh  untuk mengganti setengah liter darah).

7. Anda mungkin memerlukannya
Statistik menunjukkan bahwa 25 persen atau lebih dari kita akan membutuhkan darah paling tidak sekali dalam seumur hidup. Orang-orang yang berusia di atas 50 tahun paling banyak memerlukannya. Alangkah indahnya bila Amemberi selagi mampu, sebelum menerimanya suatu saat.

Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10. Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…