Skip to main content

Dilarang Masuk ke Mulut dan Usus Saya

Setiap orang pasti punya hal yang tidak disukai atau dihindari. Orang-orang terdekat saya pasti sudah (sewajarnya) mengetahui apa-apa yang saya tidak makan/minum atau berusaha hindari. Namun, seringkali, terutama bagi yang jarang menghabiskan waktu dengan saya, tidak tahu bahwa saya tidak mengkonsumsi hal-hal berikut:
  • Kacang. Hampir semua jenis kacang dan olahan kacang dan yang mengandung kata kacang dari tempe yang Indonesia banget (katanya) sampai kacang mete atau almond sekalipun. Jangan sekali-kali memaksa/menjebak saya minum susu kedelai. Kacang polong, kacang panjang dan kacang ijo jelas-jelas tidak saya 'sentuh'. Saya hanya bisa berdamai dengan 'kecap' dan 'tahu'. Maka. saya adalah penikmat somay, batagor dan sate tanpa bumbu kacang, dan saya tak bersahabat dengan gado-gado, pecal dan ketoprak. Selain tak suka baunya (kacang), saya memang alergi.
  • Minuman bersoda. Coca cola, Fanta dan kawan-kawannya sudah saya hindari sejak satu dekade terakhir.
  • Daging Merah. Mulai menghindarinya sejak tahun 2007 awalnya mencoba diet golongan darah untuk kesehatan, lama-lama terbiasa dan belanjut menjadi tidak tertarik pada daging Sapi, daging domba, daging kambing dan kawan sejenisnya, dengan pengecualian pork (yang demi pledoi saya anggap sebagai 'daging pink'). Meskipun sudah tak suka mengkonsumsi kornet sapi dan sosis sapi, namun saya masih mengkonsumsi beberapa olahan sapi seperti keju dan susu. Bakso? Hmm.. biasanya saya membatasi, bakso Tasik adalah hal yang paling sulit saya tinggalkan. :)
  • Saos Sambal. Jangan heran ketika saya makan bakso dengan kuah bening, somay hanya berbumbu kecap, dan memilih mayones untuk cocolan gorengan.
  • Gorengan Pinggir Jalan. Maksudnya, yang abang-abangnya jualan di trotoar atau keliling. Selain karena bayangan debu yang menempel di gorengan, dan menjadi saksi minyak yang berwarna kelam, saya juga pernah menjadi korban gorengan yang digoreng pakai plastik -yang pernah nonton reportase investigasi pasti tahu-. 
  • Pepaya, Melon dan Semangka. Tidak suka. Karena itulah saya bukan penikmat rujak.

Kebiasaan saya lainnya soal makanan adalah:
  • Saya tidak mengenal makanan pokok. Sejak di bangku SMA, nasi bukanlah makanan wajib saya yang harus dikonsumsi setiap waktu makan atau setiap hari.
  • Saya tidak bisa/terbiasa sarapan dengan menu nasi (keculai sudah berubah wujud menjadi bubur). 
  • Saya tidak suka makan pisang utuh, kecuali pisang itu telah dikreasikan menjadi banana split, pisgor atau pisang bakar.
Baiklah, 'penting gak penting', sih. Saya bukan terlalu pemilih dalam hal makan, saya biasanya memilih tidak makan jika disajikan menu-menu yang saya sebut di atas. Tapi, saya bisa jadi bete kalau misalnya dibelikan somay berbumbu kacang oleh teman baik atau saudara dekat.

Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10. Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…