Sunday, February 9, 2014

Rest in Peace, Cardo

Sore, 9 Februari 2014 - Seorang teman mengirimkan pesan instan melalui WhatsApp (WA) memberitahu kabar duka 'kepergian' seorang teman (lainnya) pagi tadi.


Ricardo Romulo Siburian, akrab dipanggil "Cardo". Sosok yang senang tertawa. Awal gue kenal di organisasi mahasiswa hukum "Permahi" sekitar tahun 2005. Kami beda universitas, tapi cukup akrab saat aktif di Permahi. Dari kegiatan kumpul-kumpul di sekretariat, jalan bareng, dan sempat ikut touring ke Puncak yang saat itu cuma dua cewek yang ikut gue dan Sukma.

Mengingat Cardo, mengingatkan gue kembali ke satu momen yang hampir ga pernah gue ingat-ingat lagi, saat Konferensi Cabang (Konfercab) DPC Permahi Jakarta. Saat itu, malam hari Cardo & Andrew naik motor dari lokasi Konfercab di Cilandak ke rumah gue di Tebet untuk mengambil sertifikat LDK dan lainnya yang menjadi syarat maju menjadi Ketua DPC. Sampai akhirnya, gue jadi satu-satunya kandidat cewek dan terpilih.

Mengapa sampai gue menuliskan kenangan bersama Cardo di blog? Karena kenangan terakhir bersamanya laik untuk dikenang. Buat gue yang cukup pengingat (khususnya kebaikan orang) ini, tak salah kiranya berbagi ingatan yang baik tentang seorang teman. Meski kami sangat jarang bertemu, bahkan komunikasi hanya sebatas berbalas komentar di facebook. Yang gue tahu, Cardo tampak bahagia semenjak status di media sosial tersebut "in a relationship".

2012 lalu, ya waktu cepat berlalu. Ketika gue dan Sukma mengajak Andrew dan Cardo tiba-tiba menghabiskan malam Minggu bersama di Ohlala Cafe Sarinah. Sampai akhirnya subuh, kami beranjak. Saat itu kami bergadang karena gue mau beli kue-kue di Pasar Subuh untuk kegiatan sosial Gema Damai.

Cardo menemani gue dan Sukma. Kami bertiga sama-sama kurang tahu persis letak pasar kue subuh. Setelah bertanya-tanya dan putar-putar cari tempat parkir tibalah saat kami berburu kue.
Gue masih dengan kostum kondangan. Gue kembali ingat bahwa malam harinya menemani Melda ke acara resepsi perkawinan di Hotel Shangrila, lalu diantarkan ke Epicentrum untuk menonton konser 50Cent, dan dijemput Sukma di Plaza Festival.
Ya kostum kondangan gue tentunya lengkap dengan highheels, sepatu pesta.
Turun dari mobil gue sebenarnya pasrah dengan salah kostum. Tapi, Cardo berbaik hati meminjamkan sendalnya meskipun gue sudah coba menolak karena artinya dengan meminjamkan sendalnya, ia akan bertelanjang kaki.

Tanpa alas kaki, tampak senang dan ikhlas Cardo menemani dan mengawal dua perempuan belanja kue. Ia pula yang membantu mengangkat kue-kue belanjaan gue. Dan, saat menulis bait ini tak terasa air mata gue pun jatuh tapi kemudian gue tersenyum, bangga pernah mengenalnya.

Selamat jalan, Cardo. Rest in peace. May your soul dance happily in heaven.

No comments:

Post a Comment