Skip to main content

Pendekar Tongkat Emas - Tongkat Emas Perfilman Indonesia di Penghujung 2014

Peringatan: Kalau mau langsung lihat review film dari gue, ke bagian hurup tebal saja. Tapi kalau mau lihat kilas singkat gue menonton sebuah  "film emas Indonesia", monggo disimak segera dari yang berikut ini.

Awalnya, ini sebuah kisah gue nonton satu film Indonesia di bioskop pada salah satu mal. Gue lihat ada Mira Lesmana, Riri Riza dan Reza Rahadian (semoga mata gue gak "siwer" mengenali orang), setidaknya mereka bertiga yang gue dapat kenali, ketiganya insan perfilman Indonesia. Pas mau masuk studio M'ira & the Gang' foto selfie dulu di depan poster film tersebut dan eng ing eng.. Ternyata, mereka duduk satu baris dengan gue. Degdegan sih, tapi mencoba sok cool, apalagi yang duduk di sebelah gue adalah Mbak Mira. Jelas film tersebut bukan filmnya Mira, tapi apresiasi mereka terhadap film Indonesia yang bukan "karyanya" pun tinggi dengan bela-belain nonton film Indonesia di bioskop dan beli tiket. Gue juga sangat apresiatif terhadap film dalam negeri. Makanya, saat itu gue nonton sendiri. Kembali ke Mira dan kawan-kawan, di antaranya menggunakan kaos hitam bertuliskan "Pendekar Tongkat Emas". Ternyata, setelah gue cari tahu, mereka habis menghadiri media screening PENDEKAR TONGKAT EMAS.

Nah, berawal dari cerita di atas gue akhirnya dihantui "Pendekar Tongkat Emas" (PTE). Ternyata gue baru ngeh,  ini adalah film yang disutradarai oleh Ifa Ifanyah dan diproduseri oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. Reza Rahadian sendiri adalah salah satu pemainnya. Saat mulai cari tahu, lebih ngeh lagi karena ini adalah film yang dibintangi Christine Hakim. Sempat tahu tentang beliau mau main film "silat".

Dari preambul di atas, akhirnya gue nonton PTE. Saking niatnya, gue dan teman gue (Viena) yang kekeuh juga menjadi pemicu karena mengingatkan kalau hari ini 18 Desember 2014 adalah hari perdana tayang PTE di bioskop, tergopoh sampai di bioskop pas jam mulai tayang.

Di mana ada niat, di sana ada jalan. Pas masuk studio filmnya baru mulai. Bagaimana PTE yang menghibur malam Jumat gue? Begini!

Cerita ini, ya benar, tentang persilatan. Silat di Indonesia ini menyebar luas dari Sumatera dan pulau-pulau lainnya. Di PTE sendiri mengambil latar lokasi di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Nuansa Sumba terlihat dari awal cerita ketika para karakter mengenakan kostum yang berbau khas (kain tenun setempat). 

Kisahnya tentang seorang pendekar silat, Cempaka (Christine Hakim) yang membesarkan empat anak yang juga dididik menjadi murid-murid perguruan silatnya yakni Dara (Eva Celia), Biru (Reza Rahadian), Gerhana  (Tara Basro) dan Angin (Aria Kusumah). Sampai di satu ketika, Cempaka ingin menurunkan ilmu pamungkasnya beserta tongkat emas yang jadi (kalau pinjam bahasa hukum) bisa disebut sebagai "objek sengketa" di cerita PTE. 

Ada antagonis ada protagonis, di mana ada antagonis ada kelicikan dan pengkhianatan. Pemain-pemain ternama dalam PTE bermain dengan baik, gerakan silat dan bahasa sederhana yang lugas mengisi film berdurasi 112 menit ini. Dan, yang membuat gue semakin menyukai film ini, bahkan melongo, pemandangan indah, hamparan padang dan langit biru dengan awan-awan menggantung. Di satu bagian saat Dara (pemeran utama) sedang memperdalam ilmunya bersama Elang (Nicholas Saputra) mengambil latar belakang/ lokasi yang fantastis, selain padang ada juga pantai di dekat tebing. Indah.

Aktor kawakan Slamet Rahardjo ikut berperan di film ini, seperti kerap ia sebagai tokoh karismatik, ada juga Darius Sinathrya Dan Prisia Nasution ikut unjuk peran meski tak banyak.

PTE bisa ditonton segala usia, ini film yang baik untik memperkenalkan silat
sebagai bela diri khas Indonesia dan bukan hanya ada di Sumatra dan Jawa saja, betapa indah alam di Indonesia dan terlebih pesan moral cerita PTE. Meskipun demikian, bimbingan orang tua diperlukan, terlebih adegan kekerasan dan pertikaian yang sampai berakhir kematian. 

Pesan moral yang terselip dalam PTE cukup menyentuh. Pada dasarnya, di bidang apapun, jika di PTE di dunia silat mungkin bila diterapkan ke zaman kini dunia bisnis, intinya tidak perlu ada "pemenang" karena pada akhirnya akan memakan korban dan biasanya akan menimbulkan ketidakpuasan. 

Satu kutipan dari kata-kata Cempaka:

"Apalah arti sebuah ilmu jika tidak diabdikan untuk kemanusiaan."

Lalu, apakah penonton puas? Lihat saja foto di bawah ini. The ladies (salah satunya gue dong) sumringah  pamer tiket sehabis nonton, the guys juga sumringah memegang tiket yang masih utuh, excited untuk menonton seperti wajah the ladies sebelum masuk 'studio 5' sebelumnya.



Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…