Friday, July 17, 2015

Lebaran

Ketupat pemberian teman Papa, pepes tahu buatan Mama, dan sumbangsih saya di hari lebaran ini adalah makanan penutup alias dessert.

Saya gak suka lontong dan ketupat, makanan khas lebaran di tanah air. Biasanya, makan ketupat karena terlanjur dibeli (dan dibayar) saat beli sate atau dikirim tetangga pas lebaran (daripada mubazir dan gak ada orang lain di rumah).

Yang khas lainnya dari lebaran adalah "mohon maaf lahir dan batin" (batin bukan bathin! - anak KBBI), yang hanya ucapan semata atau terangkai dalam pesan singkat (sms dan layanan pesan lainnya, bahkan parahnya broadcast message). Manusia bisa bikin salah kapan saja, 'gak harus menunggu selesai Ramadan berikutnya baru minta maaf lagi. Kalau yang baru berlalu adalah Ramadan terakhir, sementara buat salah bisa kapan saja, lalu kapan saling minta maaf-memaafkan?

Jadi, kalian golongan yang mana? Yang semata formalitas berucap atau mohon maaf dari hati (dengan komitmen agar tak mengulang kesalahan yang lalu)?

Mukadimah  di atas, hanya rangkaian kata -kata yang menari di benak saya ketika melihat foto-foto keluarga yang kumpul dan tampak bahagia setahun sekali juga makanan-makanan yang meriah di berbagai media sosial dan melihat pesan-pesan singkat di WhatsApp dan media sosial. Padahal, saya hanya ingin turut mengucapkan "SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI" - tanpa embel-embel semoga "bla bla bla".

Menjadi bersih, damai dan penuh kasih, mengaku dosa dan saling memaafkan, tidak perlu tunggu Lebaran, Natal, Hari Kasih Sayang (Valentine's Day)  atau hari raya agama apapun. — Lia Sirait

Sekali lagi, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI (bagi umat yang merayakannya).

No comments:

Post a Comment