Skip to main content

Lebaran

Ketupat pemberian teman Papa, pepes tahu buatan Mama, dan sumbangsih saya di hari lebaran ini adalah makanan penutup alias dessert.

Saya 'gak suka lontong dan ketupat, makanan khas lebaran di tanah air. Biasanya, makan ketupat karena terlanjur dibeli (dan dibayar) saat beli sate atau dikirim tetangga pas lebaran (daripada mubazir dan gak ada orang lain di rumah).

Yang khas lainnya dari lebaran adalah "mohon maaf lahir dan batin" (batin bukan bathin! - anak KBBI), yang hanya ucapan semata atau terangkai dalam pesan singkat (sms dan layanan pesan singkat lainnya, bahkan parahnya broadcast message). Manusia bisa bikin salah kapan saja, 'gak harus menunggu selesai Ramadan berikutnya baru minta maaf lagi. Kalau yang baru berlalu adalah Ramadan terakhir, sementara buat salah bisa kapan saja, lalu kapan saling minta maaf-memaafkan?

Jadi, kalian golongan yang mana? Yang semata formalitas berucap atau mohon maaf dari hati (dengan komitmen agar tak mengulang kesalahan yang lalu)?

Mukadimah  di atas, hanya rangkaian kata -kata yang menari di benak saya ketika melihat foto-foto keluarga yang kumpul dan tampak bahagia setahun sekali juga makanan-makanan yang meriah di berbagai media sosial dan melihat pesan-pesan singkat di WhatsApp dan media sosial. Padahal, saya hanya ingin turut mengucapkan "SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI" - tanpa embel-embel semoga "bla bla bla".

Menjadi bersih, damai dan penuh kasih, mengaku dosa dan saling memaafkan, tidak perlu tunggu Lebaran, Natal, Hari Kasih Sayang (Valentine's Day)  atau hari raya agama apapun. 
— Lia Sirait

Sekali lagi, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI (bagi umat yang merayakannya).

Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…