Skip to main content

Between the Peace and Democracy


Do you know or have you ever heard that Indonesia is the 4th largest country on earth? Large? yes, it's large, but I don’t think so at all. How about prosperity rate? How about education rate? How about security rate? How about integrity? And, how about internal conflict?

(Various sources say), Indonesia is the 3rd most democratic country in the world after India and America. Really? The most democratic country with a number of race, ethnicity, religion, and customs conflict? *thinking*


Please see this picture below, (taken by Fauzi Hanafiah). This picture has been published on the photographer's Facebook with the caption: “Indonesian state terrorism? What da hell??”.




Yes, I think I’m gonna say the same words “What the hell?” *sorry*. “Indonesian State Terrorism” was shouted by West Papua in front of the Peace Palace, Den Haag, Netherland. Yeah, that (slander) words has been made by my compatriots, people from the same nation, same country, same constitution with me. And maybe they think that they do really understand about democratic --- freedom of opinion, which made they should do that thing, speaking by a banner in front of Peace Palace. Oh it’s so miserable (especially for me). Back to the statement “3rd largest democracy” -- well, the democracy isn’t credible.

And the big issues causes "this miserable thing" are distinction of any kind, such as race, colour, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, birth or other status and of course less government attention.


Now. what do you know about this picture below? (taken from KOMPAS.com) from the article “Tujuh Kapal Eropa Akan Ikut ke Gaza”. (You need to read that article and the comments below the article)




I don't really want to care about the root causes of the conflict between Palestine and Israel, but to read the comments of this article, and conversations around me, often very very miserable. Should it be questioned whether the aid comes from infidels or not? Hi, people! Please think clearly, why the conflicts "sickening" of this kind should be prolonged. I once wrote in my blog, titled "Where Is the Peace?", I seem to be enough "screamed piteously."


Now, please see this nice picture below, from the World Cup 2010 (taken by Anastasia Narulita Purnomo).




Supposedly, mental as it is written in the banner not only call for the ball players and supporters, but for people all over the world. There was no difference between human beings.

So, in my oppinion, peace is the purpose of democracy. And, law shall guarantee a peace, then a beautiful democracy will be created, not democracy as a tool of conflict.


Last, quote from Article 2 Universal declaration of Human Rights:

“Everyone is entitled to all the rights and freedoms set forth in this Declaration, without distinction of any kind, such as race, colour, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, birth or other status. Furthermore, no distinction shall be made on the basis of the political, jurisdictional or international status of the country or territory to which a person belongs, whether it be independent, trust, non-self-governing or under any other limitation of sovereignty.”

Comments

  1. ow..ow..owww...
    ini dia si jali-jaliiii...
    wkekekeke...
    bek lah bu! ...je vais ecuter ton ecritur et comenterai

    ReplyDelete
  2. I just want to say.. what did the terrorist do is none of islam philosophy.. They killed Muslim too, and when someone ask about it the answer is "All Muslim who died in that accident will be in Heaven."
    Sucks!!! They acted as God..
    They didn't think about hows the families of victims can survive and live..
    how sad when heard that one of their family is gone..
    All Muslim want to live peace..
    Hey Terrorist!!! if you want to make some action, just go to Gaza and join the Palestinian to reach their peace..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…