Monday, April 21, 2014

Hari Kartini, Hari Kesetaraan Perempuan

Siapa Raden Ajeng Kartini, tidak perlulah dibahas panjang lebar. Saat di Sekolah Dasar tentu saja pernah mempelajari atau sang guru menyinggung Kartini sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Uniknya, meskipun hidup di masa Indonesia dijajah, Kartini bukanlah Pahlawan yang angkat senjata di medan perang atau pun yang berjasa dalam perumusan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kartini adalah Pahlawan yang memperjuangkan "kesetaraan" perempuan Indonesia.

Kartini, perempuan pejuang (hak-hak) perempuan. Ayu, cerdas dan berani, namun ia harus tutup usia di saat masih cukup muda, 25 tahun. Untuk mengenangnya, W.R Supratman menggubah lagu "Ibu Kita Kartini".

Dari informasi yang saya baca, berkat kegigihan Kartini, berdirilah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Namun, tidak tahu persis mengenai keberadaan sekolah ini saat ini. Apakah masih berdiri dan beroperasi?

Ini adalah kedua kalinya saya menulis mengenai Hari Kartini di blog pribadi saya, kali pertama (dengan judul "Selamat Hari Kartini 2010") saya tulis empat tahun yang lalu. Hari Kartini yang diambil dari tanggal lahir Kartini, kini merupakan hari besar bagi perempuan Indonesia, selain hari Ibu, diingat dan diperingati tetapi tidak mejadi hari libur nasional. Siapa yang memperingati? Tentunya, bangsa Indonesia pada umumnya. Namun, 'keriaan' tampak pada anak-anak sekolah khususnya (biasanya) murid-murid TK yang mengadakan parade atau pun peringatan dengan mengggunakan busana daerah, para siswi mengenakan busana kebaya ala Kartini atau pakaian profesional (sesuai profesi, cita-cita si anak). Di tingkatan sekolah seperti SD, SMP dan SMA juga ada yang menganjurkan para siswinya mengenakan kebaya pada tanggal 21 April. Tidak jarang juga, para pembawa acara di televisi dan pekerja perempuan di pusat-pusat perbelanjaan mengenakan kebaya.

Ya, Kartini sangat identik dengan kebaya. Foto Kartini berkebaya dengan wajah tanpa riasan berlebihan sangat klasik dan termasyur di Nusantara. Meskipun kini kita, perempuan Indonesia bukanlah perempuan berkebaya lagi, dengan mengenakan pakaian apapun hendaknya menjadi perempuan yang setara dengan lelaki dalam 'persaingan' yang baik. Paling tidak dalam dunia pendidikan dan dunia kerja.


"Habis Gelap Terbitlah Terang", sebuah buku kumpulan surat Kartini. Tentu saja rangkaian kata ini masyur dan banyak disebutkan pada Hari Kartini. Tetapi 'gambaran' Kartini dan kutipannya menjadi 'menyedihkan' (bahkan bisa dikatakan 'memalukan') ketika di media sosial (paling tidak dua tahun belakangan) menjadi lelucon. Ada berbagai versi salah satunya sebagai berikut. Saya sendiri menyesalkan hal ini terjadi di generasi saya. 



Pagi ini, aura peringatan Kartini saya rasakan saat perjalanan ke kantor. Saya berangkat dengan taksi BlueBird XI 092 yang dikemudikan oleh Fara M.N, seorang supir perempuan. Di negara Arab Saudi (terlepas dari aturan syariah atau bukan), perempuan dilarang mengendarai mobil (menyetir). Di Indonesia, bahkan perempuan bisa berprofesi sebagai supir taksi dan kendaraan besar seperti bis Trans Jakarta.

Selamat Hari Kartini, selamat merayakan (hari) kesetaraan perempuan (Indonesia).

No comments:

Post a Comment