Skip to main content

Hari Kartini, Hari Kesetaraan Perempuan

Siapa Raden Ajeng Kartini, tidak perlulah dibahas panjang lebar. Saat di Sekolah Dasar tentu saja pernah mempelajari atau sang guru menyinggung Kartini sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Uniknya, meskipun hidup di masa Indonesia dijajah, Kartini bukanlah Pahlawan yang angkat senjata di medan perang atau pun yang berjasa dalam perumusan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kartini adalah Pahlawan yang memperjuangkan "kesetaraan" perempuan Indonesia.

Kartini, perempuan pejuang (hak-hak) perempuan. Ayu, cerdas dan berani, namun ia harus tutup usia di saat masih cukup muda, 25 tahun. Untuk mengenangnya, W.R Supratman menggubah lagu "Ibu Kita Kartini".

Dari informasi yang saya baca, berkat kegigihan Kartini, berdirilah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Namun, tidak tahu persis mengenai keberadaan sekolah ini saat ini. Apakah masih berdiri dan beroperasi?

Ini adalah kedua kalinya saya menulis mengenai Hari Kartini di blog pribadi saya, kali pertama (dengan judul "Selamat Hari Kartini 2010") saya tulis empat tahun yang lalu. Hari Kartini yang diambil dari tanggal lahir Kartini, kini merupakan hari besar bagi perempuan Indonesia, selain hari Ibu, diingat dan diperingati tetapi tidak mejadi hari libur nasional. Siapa yang memperingati? Tentunya, bangsa Indonesia pada umumnya. Namun, 'keriaan' tampak pada anak-anak sekolah khususnya (biasanya) murid-murid TK yang mengadakan parade atau pun peringatan dengan mengggunakan busana daerah, para siswi mengenakan busana kebaya ala Kartini atau pakaian profesional (sesuai profesi, cita-cita si anak). Di tingkatan sekolah seperti SD, SMP dan SMA juga ada yang menganjurkan para siswinya mengenakan kebaya pada tanggal 21 April. Tidak jarang juga, para pembawa acara di televisi dan pekerja perempuan di pusat-pusat perbelanjaan mengenakan kebaya.

Ya, Kartini sangat identik dengan kebaya. Foto Kartini berkebaya dengan wajah tanpa riasan berlebihan sangat klasik dan termasyur di Nusantara. Meskipun kini kita, perempuan Indonesia bukanlah perempuan berkebaya lagi, dengan mengenakan pakaian apapun hendaknya menjadi perempuan yang setara dengan lelaki dalam 'persaingan' yang baik. Paling tidak dalam dunia pendidikan dan dunia kerja.


"Habis Gelap Terbitlah Terang", sebuah buku kumpulan surat Kartini. Tentu saja rangkaian kata ini masyur dan banyak disebutkan pada Hari Kartini. Tetapi 'gambaran' Kartini dan kutipannya menjadi 'menyedihkan' (bahkan bisa dikatakan 'memalukan') ketika di media sosial (paling tidak dua tahun belakangan) menjadi lelucon. Ada berbagai versi salah satunya sebagai berikut. Saya sendiri menyesalkan hal ini terjadi di generasi saya. 



Pagi ini, aura peringatan Kartini saya rasakan saat perjalanan ke kantor. Saya berangkat dengan taksi BlueBird XI 092 yang dikemudikan oleh Fara M.N, seorang supir perempuan. Di negara Arab Saudi (terlepas dari aturan syariah atau bukan), perempuan dilarang mengendarai mobil (menyetir). Di Indonesia, bahkan perempuan bisa berprofesi sebagai supir taksi dan kendaraan besar seperti bis Trans Jakarta.

Selamat Hari Kartini, selamat merayakan (hari) kesetaraan perempuan (Indonesia).

Comments

Popular posts from this blog

Saya Enggan Berbelanja di Qoo10 (Indonesia), Meski Tampak Menggiurkan

Awalnya adalah ketika kemarin (kalau tidak salah) melalui halaman iklan di yahoo saya tertarik dengan penawaran atas produk kosmetik ternama yang turun harga hingga sekitar 80% dari Qoo10. Akhirnya, saya pun segera mendaftarkan email saya agar tergabung dengan penyedia fasilitas belanja online tersebut. 
Saya sempatkan untuk melihat produk-produk lain yang ditawarkan, sambil saya pun mencari tahu tentang produk yang saya mau beli tersebut melalui bantuanUncle Google . Saya tertarik dengan satu produk fashion dengan merek ternama yang juga ditawarkan. Pada akhir keputusan saya pun batal memesan kedua produk yang awalnya membuat saya hampir saja memboroskan uang saya untuk produk yang "meragukan". Hari ini, saya semakin dibuat tidak simpati/ tidak suka dengan toko online Qooo10 Indonesia karena menjual produk yang menurut pengetahuan saya adalah produk berbahaya bagi kesehatan.
Baiklah, hanya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan pribadi saya dan tanpa bermaksud merusak nam…

Langsing Dengan Sibutramine

Ini adalah berita bagi yang ingin berdiet dengan suplemen atau obat pelangsing. Berat badan saya naik sekitar 10 kilogram, dan sampai tulisan ini saya buat memang saya belum mencoba obat pelangsing apapun. Alasan pertama pada umumnya obat diet menganjurkan agar kita melakukan diet (diet yang benar adalah mengatur pola makan bukan tidak makan), dan biasanya harus disertai olah raga. Masalahnya, saya sulit mengatur pola makan. Yang lebih sulit adalah mengatur menu makanan yang dianjurkan apalagi dengan harus menghitung-hitung jumlah kalori, protein dan sebagainya dari makanan yang kita konsumsi. Berolah raga sendiri agak sulit bagi saya karena waktu yang sebagian besar saya habiskan untuk pekerjaan kantor dan aktivitas sehabis kantor, belum lagi waktu yang harus dilalui bersama kemacetan Jakarta. Terus terang, dengan waktu tidur yang sempit rasanya saya tidak rela harus bangun pagi dan meninggalkan sisa-sisa waktu tidur sebelum langit terang. Satu lagi bahwa tidur itu penting.

Namun, sa…

Tante vs Bibi

Pagi ini karena mengomentari status (facebook) seorang teman, akhirnya terpikir untuk menulis lagi di blog dengan topik terkait. Sederhana sih, hanya pendapat mengenai perbedaan konotasi panggilan “Om” dan “Paman” meskipun pada pokoknya memiliki pengertian yang sama.

Dan berikut adalah tanggapan pribadi saya yang kira-kira menjabarkan kalimat panjang saya di kolom komentar status facebook sang teman. Terkait dengan saya, tema berubah menjadi “Tante vs Bibi”
Tante Saya agak keberatan dipanggil "Tante" oleh para keponakan, dan sebagian besar dari mereka  menyapa saya dengan panggilan awal "Aunty" khusus untuk 'Aunty Lia' di keluarga besar. Bukan bermaksud ke-bule2-an, tapi saya  ogah dikira atau merasa panggilan itu konotasi kuat pada istilah “tante (girang) dan panggilan "tante" mengingatkan saya pada teman-teman Ibu saya atau pun orangtua  teman-teman saya... yang saya panggil “tante”). Argh..saya tidak mau disamakan dengan orang setua mereka hehehe…